Terlalu Steril, kurang bagus juga


Cacing dan Sistem Imun

Diambil  salah satu ebook nya pak Tauhid Nur Azhar

Kisah Ibu Suri dan Ibu Relti

Kedua ibu ini adalah kakak-beradik yang masing-masing telah berumah tangga selama lebih dari 5 tahun. Mereka telah memiliki anak-anak yang lucu, tetapi mereka juga berencana untuk memberikan adik pada anak-anak mereka yang kini mulai beranjak dewasa. Tetapi setelah 3 tahun menunggu dan berbagai upaya dicoba, kehamilan yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang jua. Tak lelah mereka bertanya dan menjalani  berbagai jenis terapi, tetapi sampai saat ini belum juga seorang bayi hadir di dalam rahim mereka. Mereka terlahir dari keluarga kelas menegah yang berpengetahuan baik dan sangat peduli pada kebersihan dan kesehatan, bahkan cenderung agak fobia bila harus berhadapan dengan sesuatu yang bersifat sedikit ”kotor”. Apakah itu penyebab kehamilan tak kunjung datang jua ?

Gambar proses perlekatan antara mudigah manusia dengan dinding rahim. Parasit seperti cacing memiliki peran disini, bila tubuh kita terlalu “steril” dan tidak memiliki parasit yang menumpang hidup, sistem imun menjadi lebih keras dan sulit untuk mengijinkan siapapun untuk masuk, termasuk mudigah kita sendiri.

Sering kita mendengar gerutuan seorang Ibu yang melihat anaknya bermain-main di pekarangan dengan memanfaatkan media tanah. Sebagai anak-anak kitapun pasti sering memuaskan imajinasi kita dengan membuat kue-kuean dari tanah atau istana dari pasir.

Hampir setiap anak, menyenangi saat-saat berlari-lari atau bahkan begulingan di tanah berpasir. Di masa-masa kecil dahulu saya bahkan bisa menghabiskan waktu seharian penuh dengan bermain di sungai dan di tepian sawah yang berlumpur, sekedar untuk

memancing atau berenang. Dan seperti juga setiap ibu lainnya, ibu sayapun biasanya marah besar. Komentar yang paling sering terlontar adalah : “Awas nanti cacingan !”.

Bahkan masalah cacingan ini sudah menjadi agenda nasional Departemen Kesehatan, karena dianggap sebagai suatu pencetus kemunduran bangsa. Wuaduh, apakah sedemikian seriusnya ? Sangat serius, karena hasil-hasil penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa cacingan berhubungan erat dengan anemia alias penyakit kurang darah (merah), malnutrisi atau kurang gizi, dan pada gilirannya kondisi kecacingan akan menyebabkan tidak optimalnya proses tumbuh kembang. Singkat kata cacingan menjadikan bangsa kita menjadi bangsa yang bodoh dan sakit-sakitan. Apakah memang seseram itu ? Apakah cacing perut semata diciptakan oleh Tuhan hanya sebagai parasityang merugikan ? Apakah manfaat yang mereka hantarkan hanya ditujukan bagi kemaslahatan dokter dan pabrik obat saja ? Maklumlah kedua profesi itulah yang menangguk keuntungan dari penyakit cacingan.

Cacing Necator Americanus

Apa yang selanjutnya terjadi ? Manusia dengan ilmu dan teknologinya secara gagah  berani mencangkan perang terhadap cacing. Tidak ada satupun cacing yang berhak hidup  di teritori atau wilayah manusia. Cacing dan manusia tidak dapat hidup berdampingan.

Manfaat penciptaan cacing oleh Tuhan, kita simplifikasi hanya menjadi sekedar bentuk  ujian bagi kita dalam proses mengeliminasi masalah. Cacing dibudayakan menjadi salah  satu alat uji kompetensi manusia dalam menyelesaikan masalah di dunia.

Penghancuran dan pemusnahan rupanya sudah menjadi pola dasar tindakan  manusia terhadap elemen lain di alam semesta yang tidak sejalan dengan visi dan  konsepnya. Padahal kita senantiasa diminta oleh Tuhan untuk saling berbagi kasih  sayang. Tugas utama kita adalah untuk memfasilitasi terciptanya ketenangan dan  kerukunan di muka bumi.

Lalu mengapa pada cacing kita begitu beringas ?

Kita  membunuhinya secara sistematis sampai mereka tidak mampu berketurunan dan melakukan regenerasi. Kita menumpas tuntas sampai ke akar-akarnya, kita dengan sadar  dan tega menuntaskan sebuah peradaban dan budaya cacing perut. Pada saat dibombardir  dengan obat cacing, mereka sungguh tidak berdaya. Tidak ada jalan keluar ataupun  tempat pengungsian. Cacing perut hanya bisa tinggal di dalam perut, jika diusir juga kemana dia akan hidup? Untuk itulah ia  diciptakan Tuhan.

Cacing Necator Americanus

Tetapi Tuhan Maha Adil, dan Maha mengetahui apa yang diperbuat hamba hambNnya.

Tuhan telah merancang dengan sedemikian sistematis setiap unsur ciptaan- Nya, selain setiap unsur memiliki fungsi khusus dan manfaat spesial, setiap elemenpun tergabung dalam sebuah jejaring “sebab-akibat” yang akan saling mempengaruhi.

Kemusnahan cacing di ekositem tubuh manusia akan memberikan dampak yang sangat  berpengaruh. Hasil penelitian mutakhir menunjukkan bahwa angka kemandulan di antara para wanita yang berstatus eknomi menengah ke atas dan berkarier di kota-kota besar semakin meningkat. Sebuah hipotesa kreatifpun dilahirkan oleh Prof.Dr.dr.Susilo

Wibowo, SpAnd, MSMed yang kini menjabat sebagai rektor Universitas Diponegoro,  “para wanita itu kekurangan cacing atau belum pernah cacingan !” Dasar pemikiran beliau sangat ilmiah dan jauh dari kesan tidak serius. Cacing di dalam perut dalam jumlah yang proporsional akan merangsang aktifitas sistem pertahanan tubuh humoral (cair).

Pertahanan tubuh humoral ini terdiri dari serangkaian proses yang meliputi  penyelubungan cacing untuk membatasi ruang geraknya, jadi cacing boleh bertamu dan  bersilaturahmi dengan syarat harus mengikuti peraturan yang berlaku demi kemaslahatan bersama. Tahap selanjutnya adalah proses “penegakan hukum” yang melibatkan imunoglobulin, yaitu sebuah protein khusus yang dapat bertindak represif terhadap benda  asing. Imunoglobulin yang terlibat adalah dari jenis E. Adapun secara umum imunoglobulin sendiri sebenarnya terdiri dari 5 sub tipe, yaitu , G,A,M,D,dan E.

Imunoglobulin biasa disingkat menjadi Ig. Khusus pada kasus cacingan maka Ig yang  aktif adalah IgE. Proses pengaktifan sistem pertahanan tubuh humoral ini dikenal melalui  jalur khusus Th2 atau jalur yang biasa digunakan untuk mengaktifkan sistem pertahanan  tubuh yang bersifat cair. Sedangkan jalur yang satu lagi disebut jalur Th1, yaitu jalur  untuk mengaktifkan sistem pertahanan tubuh seluler atau menggunakan sel-sel  pertahanan tubuh seperti sel limfosit dan makrofag. Apa yang terjadi pada manusia manusia  yang tidak lagi memiliki cacing di dalam perutnya ? Pada wanita sistem  pertahanan tubuh seluler akan semakin aktif menjaga dan meronda di sekitar rahim dan alat peranakan lainnya, akibatnya ? Sel nutfah dari suami akan sulit menembus benteng pertahanan dan tentu saja akan gagal membuahi. Sel-sel dari jalur Th 1 akan memeriksa dengan penuh kecurigaan setiap pendatang baru yang mencoba memasuki daerah rahim dan saluran telur. Bahkan bila pendatang baru itu lolos dan sempat membuahi sel telur, maka sel-sel penjaga yang ganas itu akan menghalang-halangi proses perlekatannya di dinding rahim. Bagi mereka calon mudigah yang sebanrnya mengandung unsur Ibu yang merupakan induk semangnya, tetap dianggap sebagai makhluk asing.

Proses Pembuahan Sel Telur oleh Sel Nutfah

Bagi pria apa dampaknya ? Wah yang ini lebih parah lagi. Secara teoritis seorang pria yang tidak lagi mampu menjadi manajer yang mengayomi dan memberi naungan perlindungan kepada umat cacing maka ia akan lebih beresiko untuk mengalami penyakit jantung koroner ! Nah lho, kok gawat bener ? Ya memang gawat. Disinilah kita dapat menafakuri kesempurnaan sistem ciptaan Tuhan, jejaring fungsi antar elemen ciptaan-Nya mampu menghasilkan hubungan sebab akibat yang teramat rumit.

Bila seorang pria tidak lagi memiliki cacing dalam tubuhnya, maka jalur Th1nya atau jalur sistem pertahanan tubuh berbasis selulernya akan cenderung meningkat secara pesat dan juga menjadi agak beringas.

Telur Cacing Ancylostoma Duodenale

Ironi bukan ? Tidak hanya manusia saja yang sok jagoan dan berani keroyokan bila jumlahnya banyak. Ini mungkin bentuk parodi yang diberikan Tuhan pada kita agar kita mampu untuk menertawai diri kita sendiri dan tidak menajdi pribadi yang malas untuk berintrospeksi. Sifat-sifat dasar itu rupanya baik yang baik maupun yang buruk dapat dicermati di berbagai tingkatan kehidupan. Kembali pada beringasnya sel-sel pertahanan  tubuh pada pria yang tidak memiliki cacing, ternyata hal ini dapat dijealskan dengan mekanisme yang sama dengan sulit hamilnya wanita yang tidak cacingan.

Ketiadaan  cacing akan menghambat pengaktifan Th2, akibatnya terjadi ketidakseimbangan antara jalur Th1 dan Th2, padahal Yang Maha Kuasa telah membangun fondasi keteraturan di alam semesta ini melalui sebuah proses keseimbangan (equilibrium). Jalur Th1 yang terlau aktif pada gilirannya akan menyebabkan proses radang kerap terjadi di dalam tubuh, termasuk di dinding pembuluh darah (endotel). Karena radang yang berulang maka tubuh memproduksi antara lain radikal bebas yang pada gilirannya dapat  meradikalisasi gugus lemak. Gugus lemak radikal akan bekerjasama dengan dinding pembuluh darah yang juga telah rusak dan bersinergi membangun sumbatan. Inilah yang

dinamakan dengan proses aterosklerosis. Bila sumbatan ini terjadi di pembuluh darah koroner, yaitu pembuluh darah yang mensuplai sari makanan dan oksigen bagi otot jantung, maka terjadilah penyakit jantung koroner. Dimana jantung dapat berhenti berdetak karena tidak lagi mendapat makanan dan oksigen.

Pembuluh DarahKoroner dan Penampang Jantung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s