Kali Ini, Untuk Diriku

Setelah merencanakan 4 bulan sebelum, perjalanan bersilaturahim ke tanah tertinggi di Sumatra, tertunaikan sudah. Mulai dari hunting tiket yang berburu waktu dengan kenaikan biaya bandara, dan dengan gajian :D. salah sendiri uang tabungan ludes oleh trip sebelumnya.. 🙄

Keberangkatan dari Bandung-Jakarta-Jambi, Alhamdulillah banyak orang baik yang kutemui. Perjalanan sendiri, sebelum bertemu dengan teman yang lain.

Penerbangan dengan kode GAxxx, alhamdulillah berhasil mendarat di Bandara Thaha, Jambi. Untuk kali kedua, aku menginjakkan kaki ke bumi Andalas. Ah… tanah yang penuh kenangan.  Tanah seberang yang menyambutku dengan segala kebaikannya.

Karena HP GSM ku ketinggalan, dan ternyata CDMA pun tidak bisa diaktifkan combonya, bersyukur, ada pulsa reguler yang ada di tablet, yang biasanya pulsa selalu habis untuk pengaktifan paket data. Sehingga, Travel masih bisa menjemputku tepat waktu.

Begitu keluar dari pesawat, memperhatikan Bandara Thaha, sangatlah kecil. Pagi itu, hanya ada dua pesawat yang parkir. Ah, beberapa penumpang terlalu terburu-buru atau mungkin terlalu bersemangat untuk menuju gedung bandara dan untuk klaim bagasi. Tampak beberapa orang, sedang mengabadikan momen dan memberikan bukti bahwa dia sudah berada di tanah Jambi. Sementara aku, hanya sibuk memandangi mereka. Ah, sudahlah.

DSC05318DSC05320

Memasuki gedung bandara, satu ruangan untuk klaim bagasi yang langsung terlihat pintu keluar, mengingatkan aku pada Bandara Babulla di Ternate, persis banget. Sambil menunggu kerilku terlihat di roda berjalan, terlihat di dinding, tempat-tempat menarik yang harus dikunjungi selama di Jambi. Di sisi lain, terlihat beberapa orang berombongan, dengan kerilnya masing-masing, sepertinya mereka punya tujuan yang sama denganku, mungkin.

DSC05321

Setelah keluar dari bandara, aku melanjutkan perjalanan ke kabupaten kerinci, yang memakan waktu hingga 10 jam. sekitar 500km lebih  perjalanan ini berlanjut. beberapa menit kemudian, akhirnya kutemui juga patung di ujung jembatan malakam yang banyak tertulis di berbagai catatan perjalanan. Patung orang dengan berpakaian adat Jambi. Aku hanya bisa melihat dalam kendaraan, dan semoga suatu saat nanti bisa menikmati kota jambi secara khusus.

DSC05324

kebaikan demi kebaikan, aku terima selama perjalanan sendiri ini. Saat istirahat makan siang, aku ditraktir oleh seorang pasangan suami istri, yang mungkin mereka ingat anaknya, dan kasihan melihat aku jauh-jauh pergi sendirian, dan ketika sampai di rumah beliau, di Sungai Penuh, ditawarin untuk menginap dan akan di antarkan ke Kayu Aro keesokan harinya. Ingin rasanya menerima tawaran itu, tapi aku harus menemui teman-temanku yang lain, yang saat itu juga di belakangku menyusul ke Kayu Aro.

Setelah sempat singgah di loket travel, main bentar ama bayi pemilik travel, sampai lah di basecamp Jejak Kerinci. Sudah nampak banyak orang, dan berada di tempat baru, tanpa kenal satu pun, aku istirahat sebentar di salah satu ujung ruangan. dan untungnya ada Perempuan lain yang akhirnya kami pun berteman sampai saat ini. Ada yang bercerita, aneh banget lihat aku saat itu aku dilihat oleh seorang ranger, dia sadar sepertinya, ada cewek bingung, sambil scroll tabletnya, mencari kabar” temen2ku yang lain kemana.” 😀

Akhirnya, hampir subuh mereka datang… baik-baikkah kalian setelah menempuh perjalanan begitu jauh..? 😀

dan Akhirnya, perjalanan yang sesungguhnya itu dimulai di pagi itu, kerinci yang malu-malu menampakkan diri, terhijab oleh kabut putih, hingga pelan-pelan mentari menyibak kabut itu.

Perjalanan itu, sesungguhnya hanya untuk lebih menyakinkan diri, bahwa diri ini amat sangat kecil di HadapanMU. Perjalanan ini hanyalah sarana untuk melatih agar diri ini bisa lebih banyak bersyukur, dan sangat bersabar.. karena sesungguhnya Sabar dan Syukur saja tidaklah cukup, tapi harus dengan SANGAT Sabar, dan BANYAK bersyukur.

“Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang, yang sangat sabar, lagi banyak bersyukur.” – (QS.31:31)

semoga ada umur panjang yang barokah, agar aku bisa bercerita lebih banyak tentang perjalanan-perjalanan itu.

Jika perjalanan sebelumnya aku persembahkan untuk bapak dan ibuku, kali ini untuk diriku…

 

DSC05458

Salam dari ketinggian 3805 mdpl

Selamat Tambah Tua Mikes.. semoga waktu yang terlewat dan yang sedang dan akan dilalui penuh berkah.. 🙂

Salam..

06 Juni 2014

M. Ike S.

Advertisements
By marlindia Posted in blog

Syukur itu tak sekedar Alhamdulillah

Kelasku berakhir lebih cepat dari jadwal sebenarnya. Sebenarnya ada undangan di fakultas sebelah, undangannya jam 11, tapi karena masih cukup lama dari jam 11, akhirnya aku kembali dulu ke ruanganku.

suasana masih cukup lengang, mengingat ini juga sudah gak bisa dibilang pagi.
Ternyata, remote semangatku masih dipegang oleh orang lain. Teman-teman yang ‘sekomplek’ denganku, hanya aku seorang yang hadir di hari ini. Masing-masing punya execuse masing-masing, sehingga bisa tidak masuk hari ini. Dan itu mempengaruhi semangatku. 😦 gak boleh kayak gini harusnya ya. harus rebut remote semangat agar tidak dikendalikan oleh yang lain.

Kondisi ini mungkin disebabkan oleh aturan tentang kehadiran fisik yang kurang dikontrol, atau mungkin dikontrol tapi evaluasinya tidak terasa. Toh sama aja, yang hadir hanya 5 jam sepekan dengan yang hadir 80 jam sepekan. (perbandingannya lebay sih 😀 )
Tapi itu yang terasa, gak hanya oleh diriku tapi oleh beberapa teman yang lain. pegawai yang mungkin secara status dia lebih tinggi, tapi terlihat bahwa penampakannya gak selalu ada, berbaik sangka saja, mungkin mereka sedang ditugaskan ditempat lain.

Memang, ini gak boleh jadi alasan untuk ikut-ikutan seperti itu, tapi secara gak langsung bisa menjadi pembenaran untuk yang lain. Dengan berdalih, toh dia juga bisa datang seenaknya, gajinya juga tetep lebih tinggi.. toh dia yg gak dapat tugas apa-apa, masih dapat penghargaan yang bahkan lebih tinggi dari biasanya. Bahkan ada, entahlah sudah mendapat legalitas dari para boss atau gak, bisa mencangkul di tempat lain, pada hari dan jam kerja,

Memang siiihhh… ada yang bilang, yang penting kerjaan selesai, tugas dilaksanakan dengan baik, dan lebih enak ngerjain di rumah daripada di kantor yang mungkin notabene ributnya minta ampun, atau karena bisa konsentrasinya saat malam hari, dan sudah terbiasa menjadi manusia kalong…

TAPI itu semua tidak boleh jadi alasan untuk tidak semangat.. kalo ikut-ikutan seperti itu, dimanakah rasa syukur itu. Rasa syukur, karena mempunyai salah satu jalan rejeki di tempat ini. Rasa syukur, karena mempunyai tempat untuk mengembangkan diri, rasa syukur telah diberi kepercayaan untuk di sini.

Syukur itu gak hanya sebatas mengucapkan Alhamdulillah, aku punya pekerjaan.. Itu hanya syukur sebatas lisan. Dan perintahnya gak hanya bersyukur, tapi Syukur yang Banyakkkkkk (QS 31:31)

Syukur itu tidak hanya sebatas lisan. Menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh, sebaik-baiknya, memenuhi aturan yang telah disepakati di awal kerja. bersyukur mendapatkan amanah, dan berusaha untuk menjaga amanah itu dengan sebaik–baiknya, itu juga merupakan bentuk syukur. Syukur dengan tindakan.

#mencoba merebut kembali remote semangat dari orang lain, dengan mengingatkan kembali tentang syukur

 

Travelling di 2013

Akhir tahun 2012 ditutup oleh hiking ke semeru untuk pertama kali, dan menggenapkan misi yg belum tertunaikan ke ciwidey dan main-main di sebuah sungai di Naringgul di cianjur…

untuk tahun 2013, akhir tahun diwarnai oleh deadline kerjaan yang makin menggila dibandingkan tahun sebelumnya, ditambah aku yang gak mampu menghadapi badai kehidupan (apasih), ditambah lagi pindahan bulan lalu yang belum kelar juga… dan tidak ada itu trip tutup tahun :D. Ini tulisan juga sudah kadaluarsa, awal tahun sudah lewat 2 bulan, baru nulis tentang hal-hal ya beraroma pergantian tahun.

Coba ku list di tahun 2013 kemaren aku kemana saja..

  1. Madakaripura, Bromo 2-3 Februari 2013
  2. get lost in Bandung, Puntang 16 februari
  3.  Jogja 1 s/d 4 Maret 2013 –> Goa Jepang, Sanggar Anak Studio Biru, Gunung Langgeran, Taman Sari, Malioboro
  4.  Papandayan tektok puncak, akhir april
  5. Cikuray, 4-5 mei 2013
  6. Solo Hiking Semeru, 9-12 Mei
  7. Belitung, 27-29 Mei
  8. Ranca Buaya-santolo-sayangheulang, 29-30 Juni 2013
  9. Ciremai, 14-15 september
  10. Lombok, 31 okt-6 nov
  11. Semarang- kondangan-lawang sewu-simpang lima, 22 desember

Keterlaluan di bulan mei…

tentunya ada mudik ke sidoarjo, jenguk adik di bogor, dan kondangan ke kota-kota di jawa barat, dan jadi kurir ke jakarta :D. Ternyata, catper tentang itu semua sebagian besar terhenti pada draft tulisan, yang entah kapan akan terselesaikan.

gak terlalu banyak kan? 😀

dan tahun ini pun akan sedikit puasa untuk beredar… bisa teu?

Ke semeru..

Sepertinya banyak yang sedang mencari cara bagaimana caranya ke semeru, jika tidak punya rombongan… sedikit share, saat saya ke sana, yang ternyata harus solo hiking ke semeru. Sendiri itu menyenangkan, tapi lebih menyenangkan jika kita punya teman berbagi.  setiap perjalanan saya ke sana titik awalnya dimulai dari Bandung.

terakhir ke semeru, awal mei tahun ini. dan tentunya, bisa jadi banyak hal yang berubah. jalan menuju ranupani dari arah tumpang pun sedang diperbaiki. jadi akan ada perbedaan, dari teman yang ke sana bulan november kemaren, perjalanan akan disambung oleh jalan kaki atau ojek 🙂

Dari Bandung menuju malang via kereta api malabar. Pada Kereta Malabar terdapat kelas 1- kelas 3 dalam satu rangkaian kereta yang sama. untuk jadwal kereta silakan langsung cek ke situs PT KAI.

Selain kereta Malabar alternatif lainnya, bisa menggunakan kereta api ekonomi kahuripan turun kediri dari situ menyambung bus menuju malang. atau menuju ke surabaya terlebih dahulu kemudian melanjutkan ke malang menggunakan bus. tapi saya belum pernah mencobanya.

  1.  Untuk kereta Malabar, Stasiun Kota malang, menjadi pemberhentian terakhir.
  2. Di stasiun ini jika rombongan, bisa mencarter angkutan umum depan stasiun untuk menuju pasar tumpang. tapi jika kawan hanya sendirian atau tidak mendapat jumlah rombongan yang cukup buat mencarter, bisa  naik angkot 2 kali untuk menuju Tumpang. pertama harus ke terminal arjosari, naik angkot yang jurusan ke terminal, Naik angkotnya dari seberang Stasiun agak ke kanan.  Sebelumnya bilang saja ke sopir angkotnya bahwa mau ke tumpang, nanti di terminal langsung dinaikkan angkot menuju tumpang. kemaren sih saya, di dalam terminal, tapi angkotnya tidak pake ngetem. Angkot menuju tumpang pun, pemberhentian terakhirnya di pasar tumpang.
  3. Baik naik angkot mandiri maupun carter, akan berhenti di pasar. Di pinggir Alfamart, di situlah biasanya angkutan jeep atau truk mangkal. tak jauh dari situ ada masjid sedikit masuk gang besar. jika ingin mampir sebentar untuk ISHOMA. di pasar tumpang dan alfamart ini umumnya digunakan untuk memenuhi keperluan logistik atau keperluan lain untuk pendakian beberapa hari kedepan. termasuk di dekat pasar terdapat puskesmas, jikalau surat keterangan sehat belum dipunya.  Sebelah Alfamart juga ada tempat fotokopi, dan bisa beli materai juga. 🙂
  4. dari tumpang menuju ranu pane. untuk jeep bayarnya per jeep, kalau truk bayarnya per orang. ketika saya sendirian kemaren, dan tidak ada tumpangan rombongan, saya ikut truk yang bayarannya per orang.
  5. Sampai ranu pane, daftar, list bawaan.. bayar administrasi.
  6. baliknya menuju malang, seperti hal nya berangkat, saya pun naik truk. bayar per orang. kalo ada jeep yang masih muat ya bisa ikut juga 😀
  7. sampai tumpang, aku naik angkot yang sedang ngetem deket alfamart, dan ternyata itu angkot yang sedang ngantri untuk carteran, dan jika tetep naik angkot itu, bayaran akan lebih mahal, karena ada biaya ‘preman’nya.  kemudian disarankanlah oleh abang angkotnya, untuk naik angkot ke arah sedikit menjauh dari tumpang. Jalan ke arah yang sama, sekitar 100 meteran, barulah bisa naik secara independen. angkot ini menuju Terminal Arjosari. jika ingin berlanjut ke stasiun, tinggal cari angkot menuju Stasiun Malang.

mungkin itu sedikit info dari saya, dan tetap jaga kebersihan dan keselamatan ya kawan. jangan tinggalkan sampah dan juga jangan tinggalkan sholat saat berhiking-ria 🙂

Jadikan setiap perjalanan itu, menambah rasa sabar dan rasa syukur kita.

Salam 🙂

Film 99 Cahaya di Langit Eropa (bukan review :D)

Atas rekomendasi seorang teman kepadaku sebuah buku dengan judul ’99 cahaya di Langit Eropa’, aku pun mencari buku ini, tapi saat iti di Bandung belum. Beberapa waktu kemudian, akhirnya saya menemukanya. Dan aku suka banget dengan buku ini. Dari buku ini, aku akhirnya sadar, bahwa pengetahuannku tentang sejarah sangat kurang, terutama tentang sejarah islam. Dan ku tulislah review tentang buku itu di sini

Hari kamis pekan lalu, Timeline di beberapa sosmed ramai dengan film dengan judul yang sama, dan hari itu adalah hari tayang perdana dari Film ini. Langsung memantau di 21cineplex.com .. cari jadwal di Mall yang terdekat dan tempat nonton biasanya, dapat jadwal yang cocok, berangkat deh. walaupun tidak ada teman yang bisa diajak, harus rela seperti biasanya, nonton sendiri ajah… :mrgreen:

image

ah… film ini, bikin aku gemes.. dengan mbak Raline shah sebagai Fatma, walaupun sedikit jauh dari bayanganku tentang sosok fatma, tapi aku suka. dengan memperhatikannya, suka dengan kostum2 yang digunakan Fatma.. 😀  Tokoh Ayse dengan sakitnya masih tetap menjadi agen Muslim yang baik. pada momen ini, saat ayse berdialog dengan Marion sehingga Marion pun akhirnya berjilbab, adegan ini praktis membuat aku nangis.. 😥

Saat Filmnya diputar, sudah berjalan sekitar satu jam, sudah mulai curiga,  cerita  baru sampai di paris, belum ke cordoba, belum ke turki.. dan ternyata bener aja,  coming soon untuk part 2 nya

Ketika membaca bukunya, aku tersadarkan oleh sejarah islam, berbeda saat aku melihat filmnya. Sisi toleransi dalam beragama di negara yang islam menjadi minoritas, sangat terasa toleransinya, terasa kurang.. (keinginan untuk lanjut sekolah di eropa, harus dimantapkan dengan kesiapan menghadapi fenomena ini).

dan sesuai dengan bukunya, Jadilah agen muslim yang baik. 🙂

#jadi terpikirkan, dengan perjalanan yang ku lakukan selama ini, apakah ada manfaatnya untuk agamaku ini, apakah ada manfaatnya untuk manusia yang lain?

Susur Pantai Garut 28-30 Juni 2013

Hamparan langit maha sempurna
Bertahta bintang – bintang angkasa
Namun satu bintang yang berpijar
Teruntai turun menyapa ku

(Mahadewi, PadI)

Pernah lihat video klip dari cuplikan lirik di atas? Lokasinya ada di Ujung Genteng, Sukabumi. Tapi kali ini, bukan tempat itu yang aku kunjungi. Tempat itu, masih menjadi wishlist untuk dikunjungi..

copyright by satubumikita :)

copyright by satubumikita 🙂

Pantai, pantai, pantai..
Pasir, ombak, senja, nyiur, karang, itu yang langsung terbesit ketika aku mendengar kata Pantai.
dan Garut memilikinya. Seperti kota Malang, di Garut ada gunung dan ada pantai.
Untukku 2 akhir bulan berturut-turut menikmati keeksotisan pantai. dan untuk perjalanan kali ini, keinginan untuk mencoba tenda baru dengan alas pasir dan angin laut akhirnya tertuai juga 🙂
Perjalanan kali ini, aku bersama dengan teman-teman Satu Bumi Kita. Ini kali kedua aku jalan bersama mereka.

28 Mei 2013

Harusnya perjalanan menuju garut dimulai sejak jam 5, tapi karena akhir bulan dan kebetulan akhir triwulan kedua tahun takwim, untuk ijin pulang cepet tentu sulit, dan masih banyak hal-hal yang harus dirapikan untuk menutup bulan itu. Akhirnya baru bisa benar-benar berangkat jam 7.10an. Begitu keluar jalan, aku disambut dengan macet weekend dan macet perbaikan jalan. Jarak sekitar 2 Km ditempuh dalam waktu 30menit by Angkot. Sampai di gerbang tol buah batu, usaha untuk telpon order taksi tidak membuahkan hasil. Akhirnya berjalan ke pangkalan taksi, dan justru mendapatkan taksi sesaat sebelum sampai ke pangkalan taksi.

Taksi yang bapak sopirnya masih makan malam, aku tungguin saja, toh armadanya sama. dan gak rugi aku nungguin bapaknya, ternyata depan pangkalan taksi pun ada beberapa penumpang yang juga sepertinya menunggu taksi yang sama.
Singkat cerita, sampailah aku di gerbang tol Cileunyi, beberapa saat aku menunggu, bus jurusan Garut datang, walaupun bukan jenis bus yang kuinginkan.

Kurang dari setengah sebelas malam, sampailah aku di Garut, sedikit berlari keluar dari terminal untuk menemui teman-teman yang sudah lama menunggu aku (maaf ya teman-teman…). Saat ketemu mereka, nampak wajah-wajah baru, itu artinya nambah teman baru. Tapi sedikit agak kaget sih, ketika melihat dari jumlah kita yang ber-9, 6 di antaranya cewek.

Tidak berlama-lama, kamipun segera memulai perjalanan menuju Ranca buaya, titik awal susur pantai ini, dengan berdoa. Setelah sekitar 6 jam ke depan, didominasi dengan angin malam, obrolan, dan istirahat. Kalau aku sih, lebih banyak tidur, memang sudah lewat waktu jam tidur :mrgreen: . dan di tengah-tengah itu juga, bapak sopir mengambil sekarung wortel di Cikajang, dan yg nantinya kami diserahin setengah karung wortel (bengong aja pas dapat ini buat apa, akhirnya kami ambil beberapa untuk perbekalan, dan sebagian kami serahkan kepada warga di Ranca Buaya.

Di antara 6 jam perjalanan itu ada pemandangan yang cantik.. bulan di antara awan-awan mendung. Cantik, hanya sekali-kali aku mengintip di antara tidurku 🙄 , ah sudahlah, suasana seperti ini bikin mellow dan membawa sebuah kenangan.

29 Mei 2013

Angin masih menemani, dan sempat kendaraan kami berhenti untuk sekedar rehat dan menghilangkan kantuk. sekitar pukul  03.30an kami pun rehat kesekian kali. di situ ada sebuah masjid. Dengan kondisi sopir yang tidak begitu paham dengan arah tujuan, beberapa teman pun mencari informasi tentang tempat tujuan kami. Sempat sih, kami salah ambil perempatan, walaupun sebenarnya tidak salah, tapi itu bukan jalur resmi.

sekitar pukul 5, akhirnya kami sampai di Pantai Rancabuaya, nuansa sudah mendung, dan rintik hujan juga sudah turun sejak beberapa waktu lalu. Beberapa kawan segera mencari mushola untuk sholat shubuh, dan berlanjut istirahat sambil menunggu matahari terbit.

Akhirnya pagi itu, ditemani dengan hujan, kami pun tetap melanjutkan hidup dengan memasak untuk sarapan. Bukan makanannya yang menjadikannya istimewa, tapi suasana dan kebersamaannya yang membuat istimewa.. Ah, inilah yang selalu aku kangenin ketika pergi bersama kawan-kawan.

Tak lama usai sarapan, hujan sedikit mereda, dan kami bersiap untuk mulai berjalan menyusuri pantai. Suasananya sendu kawan, berawan, berangin, dan sedikit rintik. Namun itu tak bertahan lama. Matahari pun perlahan menampakkan diri.

Perjalanan kita terbilang cukup lambat, karena pemandangan yang cantik membuat setiap langkah ingin diabadikan. Ya, dengan kata lain, dikit-dikit ambil foto, dikit-dikit bernarsis ria.. 😀

Pantai Rancabuaya, didominasi oleh karang, tak heran jika di pantainya pasirnya banyak terdapat batu-batu karang yg biasanya banyak dipakai buat akuarium. Dulu sih waktu kecil doyan banget ngumpulin beginian, kalo sekarang paling pungut satu dan nanti jatuh entah dimana.. :mrgreen:

Setelah beberapa waktu berjalan, akhirnya kami melipir ke bukit menjauhi pantai, yang ternyata jalan semalam yg kita salah ambil perempatan. Di sana ternyata banyak lahan untuk penggembalaan sapi. Tak ketinggalan kami menyapa beberapa sapi, dan sapi pun menyapa kami 😀

Di jalan tersebut, kami juga sempat melipir ke arah pantai lagi, dan di sana terdapat semacam tanjung yg menjorok ke laut. Kita beristirahat sambil bernarsis ria kembali. 🙂

Kami kembali berjalan, dan bertemu dengan jalan utama. Beberapa waktu kami berjalan, kami pun beristirahat kembali sambil nyemil-nyemil. Sambil ngobrol, berfoto ria, ada sebuah mobil TNI yang lewat, kalo aku sih menyebutnya mobil tronton. Kami diijinkan oleh bapak-bapak TNI untuk ikut bersama kita. Dan langsung meluncur ke Santolo. (saat itu, langsung terpikir, jadwal sampai santolo esok hari, tapi hari ini sudah akan sampai santolo, semacam pertunjukkan yang ada narasinya seperti ini “24 Jam kemudian…” 😀 )

Entah, saat itu aku buta waktu, gak tau berapa jam kami menumpang mobil TNI, yang jelas kami sudah bernarsis ria, dan aku sempat tertidur cukup pulas. :D. selang beberapa waktu, setelah merasakan tidur di atas mobil yang melewati jalanan yang membuat berayun-ayun (susah menjelaskannya) tibalah kami di persimpangan pamengpeuk.

Terlihat ada alfamart, aku ambil kesempatan untuk membeli Teh dalam kemasan yang dingin. Seger banget dalam kondisi cuaca terik seperti itu. Setelah itu, kami melanjutkan jalan ke pantai Santolo. Sepanjang perjalanan, aku sudah membayangkan akan nikmatnya ikan bakar, seketika itu perutku bunyi.. sudah waktunya makan siang sepertinya.. 😀

Sepanjang jalan pun, beberapa di antara kami saling tukar cerita, mulai hafal nama-nama teman-teman seperjalanan, dan tak lupa untuk foto narsis. Sempat kami, ‘mengerjai’ salah satu dari kami, karena dia saking enaknya jalan sendiri di depan, dan tak sadar bahwa kami berhenti jauh di belakangnya. ^^

Kami pun menemukan tempat, untuk beristirahat dan bermain. Kami mulai memasak perbekalan kami untuk makan siang. Sebagian memasak, sebagian berusaha membantu memasak, dan sebagian lagi main.. :D, main air, main ombak, main pasir, lomba lari (yang waktu itu aku gagal paham dengan aturan mainnya), ada juga proses ‘penguburan’ seorang kawan, yang tak terselesaikan karena tiba-tiba ombak besar datang 😀

Sekitar pukul 3, kami melanjutkan perjalanan kami, dan mampir dulu untuk bebersih. Awalnya, aku gak ikut ngantri bebersih, pengen di tempat nge-camp aja nanti, khawatir nanti tergoda basah-basahan lagi, tapi akhirnya ikut ngantri juga. 😀 Setelah pada seger, wangi kami melanjutkan ke sayangheulang. Di sini kami agak bingung, karena sebelum melanjutkan perjalanan, aku sempat kontak teman, bahwa sayangheulang deket dari santolo, nanti nyebrang, dan ada jembatan. Tapi yang kuliat hanya perahu tanpa jembatan. Setelah tanya sana-sini, ternyata kami harus berjalan agak jauh sedikit. Saat jalan, ketemu dengan tempat pelelangan ikan, dan sepertinya itu juga sebuah terminal. Dan harganya ternyata mempunyai selisih yang cukup jauh jika dibandingkan beli di pinggir pantai. Akhirnya kami beli ikan 3 ekor. Bekal untuk makan malam. (akhirnya akan keturutan juga makan ikan bakar.. :mrgreen: )

Kami menemukan tempat penyeberangannya. Hanya menggunakan rakit bambu. Agak sempit hati aku menaikinya… udah mandi, jangan sampai kecebur lagi… dan harusnya ongkosnya per orang 2000, tapi kami hanya ngasih 1000an per orang dengan beragurmen 2000 itu bolak-balik, besok bayar separonya lagi. Padahal esok hari kami pulang dengan jalur yang berbeda… ( harusnya ada yang tanggung jawab nih dengan statement ini, kasihan abang rakitnya)

Akhirnya, ketemu juga dengan jembatan sayangheulang di penghujung hari. Jembatan yang sepertinya sudah kehilangan fungsinya.

dan kami pun mencari tempat untuk camping. Aku sendiri, berjalan sambil mengamati susunan pohon berdaun lancip itu, mencari bentuk yang serupa dengan yang ada di sebuah foto. Tapi sepertinya tempat itu luput dari pandanganku.

Senja sudah mulai tenggelam, kami menemukan sebuah lokasi yang menurut kami cocok. Tenda didirikan, dan istirahat sebentar untuk sholat, dan mulai lah kami masak untuk makan malam. Untuk ikan yang kami beli tadi sore, sudah ada seorang chef yang mengolahnya, kami percayakan ikan itu pada chef kami.. 😀

Ditenga kesibukan kami masak-masak, datang sebuah kawan dari garut, yang ikut bergabung dengan kami. Sayangnya, aku sendiri,  belum sempat ngobrol banyak dengan mereka, hanya bersalam nama, dan sekejap aku lupa dengan nama-nama mereka.. (maafkan.. 😦 )

Angin pantai, langit berbintang, kawan baru, menjadikan ikan bakar, nasi, sambal, menjadi lebih nikmat. Terima kasih kawan.

Karena tenda hanya 2 buah, yang gak akan muat dengan jumlah kami yang bersembilan, akhirnya kami tidur tanpa tenda, langsung beratapkan langit. Alhamdulillah, mendung yang dari tadi menggelayut, mulai terarak oleh angin, dan nampaklah gugusan bintang itu.. Spontan, aku teringat lagu dengan lirik di awal tulisan ini. Momen yang selalu aku sukai, bintang yang Nampak lebih terang dan lebih banyak. Kami pun tertidur berjejer di bawah keindahan itu.

30 Juni 2013

Udara dingin yang menyentuh wajah membangunkanku, waktu menunjukkan angka 2. Langit gak terang lagi. Awan mulai datang, dan rintik hujan mulai turun. Aku dan teman bergegas, merapikan barang-barang dan pindah ke sebuah warung kosong. Tapi rintik itu tidak berlangsung lama, dan kami pun membenamkan diri kembali dalam sleepingbag di selasar warung.

tendaku... :D

tendaku… 😀

Fajar sudah mulai terbit. Usai subuh, aku dan beberapa kawan, berjalan untuk menikmati pagi. Sepanjang pesisir pantai, di beberapa titik ramai oleh pengunjung. Tak lama berjalan, terlihatlah sebuah karang, dan dalam hati aku berharap, nanti akan melanjutkan perjalanan ke sana. Tak lama berjalan, sampailah pada sebuah bangunan yang berfungsi sebagai gardu pandang. Dan tak jauh dari situ, berdirilah sebuah tugu, yang menggambarkan nama dari pantai ini, sebuah tugu dengan puncaknya berdiri seekor elang dengan sayap terkepak.

Tugu Sayang Heulang

Tugu Sayang Heulang

SayangHeulang, kata teman, itu berarti elang yang disayang, entah lah apa arti nama itu sebenarnya, dan apa sejarah dari nama tersebut. Next time, we’ll know it.

Matahari sudah mulai tinggi, kami kembali untuk  masak sarapan dan packing. Pagi itu, ombak yang datang dari arah yang tak terduga, membuat HP dari seorang kawan, harus tercicipi oleh asinnya air laut. Yang paling disayang adala semua foto yang terekam disitu :D.

Sesampainya di tempat camp, saat beberes dan packing, teman yang datang dari garut, pamit untuk pulang, cepat sekali mereka datang dan pergi, belum sempat bertegur sapa lagi, belum hapal nama, sudah pamit saja. Tak sempat kita sarapan sama-sama. Semoga ketemu di kesempatan lain 🙂

Kepala ikan yang kemaren malam hampir tercampakkan, menjadi sala satu menu sarapan kami. Lagi-lagi diolah oleh chef kami, menjadi makanan yang special. 😀

sop kepala ikan

sop kepala ikan

Setelah makan, kami packing, dan berlanjut untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan menuju karang yang terliat di awal pagi tadi.. dan kami meninggalkan tempat ini, dengan adegan pelepasan perahu kertas oleh beberapa nona-nona. Perahu kertas yang konon katanya berisi harapan-harapan, yang akan disampaikan kepada dewa neptunus or posedion ala film perahu kertas  *tepokjidat* jadi ngotorin laut aje 😛

perahu kertasku kan melaju.... :roll:

perahu kertasku kan melaju…. 🙄

Singkat waktu, sampailah kami di tempat karang itu berada, karang yang terlihat dari jauh seperti burung yang bertengger. Ternyata karang seperti itu ada di banyak tempat. Sekarang kami berada di sisi lain dari pantai Sayangheulang. Pantai ini didominasi karang dan pantai berpasir hitam.

pesisir

pesisir

Di pantai inilah ujung perjalanan kami dalam susur pantai episode in ;).

cantik yah...

cantik yah…

Sepanjang pantai banyak kelapa, yang akhirnya menjadi permainan di antara kami. Dan akhirnya kami melipir kembali menjauhi pantai. Tapi aku dan 2 orang yang lain, masih menikmati pantai lebih lama… Aku yang melihat pantai pasir hitam yang pesisirnya bersih dari makhluk bernama manusia, langsung teringat pada sebuah VC berjudul ‘yellow’, yang dari awal sampai akhir hanya ada adegan jalan di sepanjang bibir pantai. Dan aku beserta dua kawanku, sejenak berpura-pura sedang meniru video clip itu.. :D, lagu habis, kami lanjutkan dengan berfoto-foto.. 😀 (teteup narsis)

rehat sejenak setelah menjauhi pantai ;)

rehat sejenak setelah menjauhi pantai 😉

Selanjutnya adalah susur sawah.. kami melipir menjauhi pantai, dan yang kami temui adalah lading gembala sapi, sawah, dan sampai ketemu masjid, kami manfaatkan untuk rehat dan sholat.

Saat perjalanan ini, aku menemukan tumbuhan yang kupikir tumbuhan “pletekan” yang jika kena air, buahnya akan meledak, tapi saat aku cemplungin ke genangan air, ternyata gak ada reaksi apapun. Sepertinya salah ingat bentuk tanaman itu.

sebelum susur sawah :D

sebelum susur sawah 😀

yang kukira pletekan ternyata bukan

yang kukira pletekan ternyata bukan

Di tengah jalan, juga ketemu dengan penjual es potong, dan rame-rame pada beli dan makan es potong berbagai rasa.

Beli es potong

Beli es potong

Setelah bebersih dan rehat, kami melanjutkan perjalanan pulang. Tak lama ketemu dengan angkot menuju terminal pamengpeuk. Terminal yang sepi. Kami mampir untuk ngebakso dulu. Saat nunggu kendaraan untuk menuju garut/bandung, ada bus yang lewat. dan naiklah kami semua ke dalam bus.

Tapi kami diturunkan di CIkajang, dioper ke dalam elf. Kekhawatiranku untuk naik elf, terjadi juga. Elf itu, tidak ada kata penuh, sering kali sangat overquota, ini yang kurang kusuka. Tas pun ditaruh di atas, tanpa tertutupi oleh apapun, dan saat tas di atas kebasahan pun, hanya bisa pasrah.. 🙂 Tapi semuanya itu tertutupi dengan rasa syukur dan sabar…  ini yang kusuka dalam sebuah perjalanan, rasa sabar, dapat jatah untuk dilatih 😀

terima kasih untuk teman-teman dari SatuBumiKita: kang taufik, gustaf, lia, rani, rahma, joti, tia,  ade

This slideshow requires JavaScript.

Ramadan: Bulan penuh Cinta

Ramadan CintaHappy Ramadan…

Selamat menjalankan puasa Ramadan, kawan..

Jadikan bulan ramadan kali ini bulan cinta
Cinta Ibadah
Cinta Ilmu
Cinta Sesama

Siap memenuhi target-target ramadan? Target-target yang akan menjadi latihan dan akan diteruskan setelah ramadan nanti 🙂

Mohon maaf atas segala khilaf, dan semoga ramadan tahun ini kualitas ibadah kita lebih baik dari ramadan yg lalu.. aamiin

 

Solo Hiking Semeru (9-12 Mei 2013)

Solo hiking—safety first

itu benar-benar kupegang..  Pastikan fisik, mental, dan perlengkapan dan peralatan dalam kondisi fit. Akupun memberanikan diri karena juga sebelumnya aku sudah pernah ke tempat ini, dan cukup tahu medannya seperti apa.

Sebenarnya dari awal, mencoba untuk mencari teman perjalanan. Sudah berhasil booking, tapi ternyata teman booking gagal berangkat. Sudah dapat teman yang akan langsung ketemu di Malang, ternyata tidak ketemu juga. Akhirnya jadilah aku menjalani solo hiking untuk pertama kalinya. (dan ternyata sistem booking di TNBTS belum berlaku  🙄 )

Musim Semi di ranu pani dan sekitarnya :)

Musim Semi di ranu pani dan sekitarnya 🙂

Sebenarnya, kalau dibilang solohiking, tidak sepenuhnya benar, toh selama perjalanan banyak ketemu teman baru, ngobrol, atau hanya bertukar salam dan semangat selama dalam perjalanan. Memang, saat itu merupakan longweekend, dan tentunya banyak yang ambil cuti untuk bisa jalan ke tempat yang masih menjadi tempat favorit. Selebihnya, yang menjadikan aku solo hiking karena semua peralatan: tenda, kompor dkk, serta logistic aku bawa sendiri. Walaupun masih belum bisa menerapkan sistem ultralight hiking, tapi hampir mendekati lah. :D. Continue reading

Abstrak…

Gak tau harus memberikan judul apa.. jadinya itu aja deh judulnya 😀

Hari ini, nemu tweet yang mention ke diriku yang berisi tentang perjalanan ke Gunung Cikuray yang berupa video di youtube.

Langsung pengen nangis.. T.T (agak lebay sih).. aku memang sedang sangat merindukan suasana ketemu teman baru, jalan-jalan bareng, ngobrol sana sini, dan itu terjadi sebelum mengenal nama satu sama lain. Ketemu dengan orang yang sama sekali tidak tahu siapa aku, pun aku juga tidak tahu siapa mereka. Ketemu di tempat banyak mempertemukan orang, dan langsung tertanam kepercayaan untuk menjadi tripmate selama beberapa waktu ke depan.
Stranger become tripmate, become friend, and become family 😉
kangen juga dengan menikmati sunrise dan sunset di tempat yang berbeda, berdiri lebih tinggi dari awan, sambil memandang puncak lain di sebelah sana. Kkangen dengan suasana, masak bareng, makan bareng, menertawakan satu sama lain tanpa ada rasa ketersinggungan, dan kadang ada yang bijak menasihati, ada yang melankolis, ada yang puitis, ada yang pendiem, semuanya ada.

Beberapa hari lalu, ada loongweekend, aku pun sudah mencutikan hari seninnya, rencana trip tertunda dulu, dan ajakan untuk hiking pun aku tepis dengan sakit (lebay lagi).

Praktis liburan kemaren aku hanya diam di rumah, sesekali keluar hanya untuk keliling komplek, ke SB mart, dan ke toko buah, serta hari senin yang tercutikan, habis seharian di rumah sakit.

Iya, aku sedang sakit kawan. bukan mengeluh, dan jangan sampai aku mengeluh. ini hanya dalam rangka untuk minta doanya. Jangan tanya aku sakit apa, beberapa dokter , dan hasil cek darah pun belum mampu memberitahukan aku sakit apa. Ke rumah sakit, ke dokter umum kemaren adalah usaha ke empat, yang sebelumnya sudah ke orthopedi, ke rumah sakit herbal, ke tukang pijat, dan ke dokter umum. kunjungan ke dokter terakhir kemaren aku diberikan obat anti demam dan nyeri, vitamin, dan untuk lambung. jika sepekan tidak ada perubahan, aku harus ke dokter internis. minta doanya ya kawan.

Sebenarnya sakit ini sudah sebulan lebih, malah ketika awal-awal sakit, dan hanya muncul kadang-kadang saja, sudah aku pake jalan trekking ke air terjun mardakripura, trekking ke pananjakan 2, gn. puntang, gn purba jogja, gua jepang merapi. Awal-awal, aku gak perlu obat, karena memang belum ke dokter, tapi untuk 3 terakhir aku bisa melaluinya karena bekal obat anti nyeri dari dokter ortopedi 😀

Sakitnya ada di kaki, kemudian bertambah di pencernaan, yang memberikan pantangan untuk makan makanan yang kusukai, dan memberikanku untuk menggantung keril dan sepatu untuk sementara waktu.  Tapi itu bentuk ujian, dan ujian gak akan melebihi kemampuan hambanya. Doakan agar bisa selalu lebih sabar, dan semoga sakit ini bisa menjadi penggugur dosa. Aamiin.

Dengan sakit ini, aku jadi bisa merasakan nikmatnya bisa jalan dengan lincah, lari-lari, trekking yang melelahkan.
Dengan sakit ini, aku bisa merasakan nikmatnya es krim, nikmat es jus, nikmatnya gorengan, nikmatnya mie instan, dan nikmatnya bisa makan apa saja tanpa harus minum obat sebelum makan, nikmatnya makan apapun.
Dengan sakit ini, aku jadi tahu nikmatnya bisa terjaga sampai larut, nikmatnya beribadah tanpa rintihan, nikmatnya membaca tanpa pusing, nikmatnya udara dan angin serta hujan  tanpa rasa kedinginan.

Sakit itu tidak hanya melatih sabar tapi juga menambah rasa syukur. dan juga menambah rasa kangen dengan ibu, bapak, adik, masa depan, udara gunung, pantai, angin malam kota, dan rasa khusyu.

teriring sebuah lagu yang makin sering terdengar dari kamar sebelah setiap paginya.. 🙄

[youtube:http://www.youtube.com/watch?v=O1-4u9W-bns%5D
By marlindia Posted in blog

Habibie & Ainun (Movie)

images

3o hari yang lalu, singgah ke TSM mall.. sudah berubah dari BSM menjadi TSM. Kalau ke sini hanya satu tempat yang kutuju, lantai paling atas, ke XXI. dan kabarnya sekarang sedang direnovasi. mungkin BSM XXI tidak akan ada lagi dan akan berganti menjadi TSM XXI kali ya :mrgreen:

kok jadi ngomongin mall nya 😀

iya, aku ke sini, untuk menonton film Habibie & Ainun, telat banget sih, tapi dengan begitu, aku bisa memilih tempat duduk sesuka hati, dan lebih gampang jika kursi yang dipilih hanya satu.. (jadi inget kejadian nonton juga, dibilang oleh mbak kasir bahwa tiket sudah habis, tapi saat ku bilang hanya untuk satu orang, ternyata masih ada. Mungkin kurang lazim kali ya, nonton hanya sendirian itu). dan baru kali ini aku tau ada film yang di depan theaternya ada backdrop buat foto-foto, tapi aku gak foto di sana. gak ada yang moto-in 😀

sekarang fokus ke filmnya..Sebenarnya juga gak tau juga sih mau review apa tentang film ini. sudah banyak review yang bertebaran diluar sana. Hanya saja ketika aku nonton film ini, kebanyakan yang nonton adalah para ibu-ibu yang sudah berumur baik bersama dengan ibu-ibu yang lain maupun dengan bapak-bapaknya.. Pfuhh… nasib #JombloNgenes

Saat nonton film ini, terasa sekali kehidupan seorang engineer, dan engineer itu bisa mempunyai kisah yang begitu.. begitu apa ya.. begitu melankolis, begitu so sweet.. Aku sendiri sebagai seorang engineer, belum pernah merasakan sisi kehidupan seperti itu (ya iya lah.. :mrgreen: ) ..  seorang engineer di tengah keidealisannya, perfectionisnya, didampingi oleh seorang dokter.. Engineer dan Dokter ( cukup cocok)..

di sini aku melihat alur yang sebenarnya pernah menjadi alur hidup yang pernah kubayangkan. Menikah, punya anak, dan mendidik anak, ketika anak-anak sudah cukup umur baru bekerja kembali. tapi mungkin keinginan untuk melanjutkan studi masih kuat. Tapi semua itu masih bisa dikompromikan, dan usaha dan doa..

dalam film ini, scene yang membuatku nangis bombay adalah ketika N250 terbang untuk pertama kalinya. yang ada dalam pikiranku saat itu adalah Ya Allah, apa yang sudah aku berikan untuk bangsa ini. Produk anak bangsa yang sempat terabaikan ini.. akn dibangkitkan lagi, aku cukup senang dengan kabar ini. tapi tetap, aku sendiri sudah menghasilkan apa untuk bangsa ini.

scene yang kedua adalah scene saat pak habibie dan bu ainun mengunjungi hanggar yang disana pesawat N250 terongok penuh debu.. aku jadi keingat dan meresapi kata-kata itu. Dengan produksi pesawat itu secara massal dan murah, indonesia pasti lebih merata pembangunan. yang mungkin saat ini, yang aku tahu lebih banyak pesawat untuk tujuan wisata dan senang2. mungkin ketika sudah diproduksi secara massal, pergi ke pulau seberang bisa seperti naik bus saja 🙂

scene selanjutnya, tentu ketika bu ainun jatuh sakit. saat ada dialog oleh pak habibie ” Aku gak peduli harus operasi berapa kali, yang penitng ainun harus sembuh’. kurang lebih percakapannya begitu.. Manusiawi sekali, bahwa kehilangan adalah hal yang ditakuti oleh banyak manusia.

dan ketika kisah cinta yang di bawah payung pernikahan, sungguh jauh lebih indah, dari kisah cinta dalam negeri dongeng.. dan aku hanya bisa berdoa:

RABBANA HABLANA MIN AZWAJINA WA ZURRIYATINA QURRATA A’YUNIW WAJ’ALNA LIL MUTTAQINA IMAMA.
(“YA TUHAN KAMI, ANUGRAHKANLAH KEPADA KAMI ISTERI-ISTERI KAMI DAN KETURUNAN KAMI SEBAGAI PENYENANG HATI (KAMI), DAN JADIKANLAH KAMI IMAM BAGI ORANG-ORANG YANG BERTAKWA). (QS: Alfurqon: 74)

*hanya sebuah obrolan sore hari

By marlindia Posted in blog

Memaksimalkan Ikhtiar

7 Oktober 2012…

Suatu obrolan di suatu sore di kaki Gunung Papandayan, sambil menikmati gorengan dan mie rebus.

A: Emang, orang-orang itu gak kuat dengan cuaca dingin ya, saat di atas ngerokok mulu perasaan…
B: bukan gak kuat, emang kebiasaan saja..
A: Emang efeknya apa kalo gak ngrokok? kejang-kejang, lemes, sakau?
B: aduh, gimana ya, sudah kebiasaaan, jadi susah mendefinisikan?
A: Memang sudah pernah mencoba untuk tidak merokok selama beberapa waktu, dan efek apa yang timbul? adakah sesuatu yang terjadi jika tidak merokok?
B: sudah pernah mencoba, tapi susah, walaupun memang tidak terjadi apa-apa.
A: so…?
B: ya, kalo ada yang bilang merokok bakal membuat orang cepet mati, toh orang yang gak merokok pun juga bisa sakit, dan mati..
A: ya sama, orang yang sudah taat dg rambu lalulintas, pake helm, masih bisa juga terkena kecelakaan..
B: tuh kan..
A: tapi pake helm, ikut rambu, itu kan salah satu ikhtiar manusia untuk sehat dan selamat, masalah hasil itu hak yang punya hidup, sama dengan kasus merokok. at least dengan tidak merokok, kita sudah berusaha untuk menjauhkan diri dari bahaya-bahayanya.. yang namanya usaha/ikhtiar itu harus dimaksimalkan bro, dengan merokok menurutku itu bukan merupakan bentuk usaha untuk mensyukuri nikmat sehat.. at least belum maksimal usaha kita untuk mensyukuri nikmat sehat yang kita dapat.

Obrolan itu, terhenti saat mie rebus habis, dan pick up sudah siap untuk mengantarkan kami turun ke Cisurupan.

Perjalanan menuju Bandung terbilang lancar, walaupun akhirnya aku harus sendiri menempuh perjalanan ini.
sesampainya di Terminal Leuwi Panjang, aku langsung menuju ke parkir motor, dan kembali ke rumah dengan naik motor.

Selama perjalanan menuju rumah, terngiang terus obrolan yang terjadi sore tadi. Dua kilometer sebelum sampai rumah, hujan turun sangat deras, akhirnya aku berhenti untuk memakai mantel dan melanjutkan perjalanan lagi. Di bawah sebuah jembatan tol, banyak pengendara motor yang berhenti sambil menunggu hujan reda.

Obrolan sore tadi seakan berlanjut. tentang memaksimalkan ikhtiar. kenapa orang-orang yang berkendara tidak mempersiapkan diri dengan ponco, mantel, jas hujan, dan sejenisnya, padahal mereka pasti sadar bahwa ini adalah musim hujan. Mereka berhenti untuk berteduh di bawah jembatan seperti itu, bukannya itu akan menimbulkan macet dan menganggu orang lain?
jika hal sekecil ini mereka tidak mempersiapkan diri, bagaimana dengan mempersiapkan bekal untuk hidup di dunia dan di akhirat..

Dan tahukah kau kawan, setiap ilmu yang kau sampaikan harus kau amalkan..
Semua perkataanku tentang memaksimalkan ikhtiar, harus diuji.
Suasana malam, dengan kondisi tubuh yang lelah, dan dilengkapi dengan hujan,  membuatku tidak melihat ada tumpukan batu kecil di pinggir jalan.
Sekian detik, langsung gelap. Bukan sakit, bukan hujan, bukan keramaian jalan yang terpikirkan olehku saat itu, tapi Gelap. Gelap yang aku takuti. saat itu, detik itu juga airmataku langsung turun deras dengan mulut langsung beristighfar sebanyak mungkin.
Aku gak merasa sakit, langsung aku berusaha berdiri mencari cahaya.  Cahaya pun terlihat diiringi dengan orang-orang yang mendatangiku. Ketika itu satu pernyataan yang terlontar dari aku ” aku habis nabrak apa tadi?”
Sementara orang-orang memastikan aku masih sadar dan menawarkan untuk ke rumah sakit, aku sibuk sendiri dengan pikiranku sendiri, ini dimana, tadi kenapa?

dan memaksimal ikhtiarku diuji.  Ternyata aku terluka di bagian wajah dan kaki, luka  yang terdeteksi saat itu. Hanya kaca helm yg luput terbuka, dan sebagian helm pecah.. entah apa yang terjadi jika aku tidak memasang tali helm dan helm itu terlepas…..

mari kita memaksimalkan ikhtiar kawan, dalam segala hal, sertai ikhtiar itu dengan doa, karena doa lah yang bisa merubah ketetapan yang sudah tertulis… dan bertawakkal terhadap hal yang telah kita lakukan, serta ber-qanaah terhadap hasil yang kita dapat.

#Catper Semeru 22-25 Desember 2012 (bagian 3)

bagian sebelumnya

mahameru

3 tenda kami berdiri di bawah pohon, tak jauh dari Shelter pos Kalimati. Hujan pun turun setelah tenda berdiri. Hujan memberikan kami sumber air lebih :D. kegiatan selanjutnya yaitu masak-masak untuk makan malam, sholat, dan tidur untuk persiapan muncak… pasang alarm untuk bangun dan persiapan summit, pukul 23.00 bismika allhumma wa bismika amuut…

Krik krik… gak bisa tidur sampai jam 21.30… >.< haduuhhh harus bangun jam 23….

Keinginan yang kuat, akhirnya yang biasanya susah bangun, denger ribut-ribut dikit, dan alarm sekali bunyi langsung bangun. (pengen deh ini berlangsung di keseharian, tanpa harus me-snooze alarm setiap kali alarm bunyi).

Bikin makan malam bentar, karena aku-nya sendiri tadi belum makan. Kemudian lanjut makan, siap-siap, sambil merhatiin teman-teman tenda depan yang juga lagi bersiap-siap. Sambil lihat sekeliling, sambil sedikit pemanasan..

24 Desember 2012

Dari bersepuluh, dua teman memutuskan untuk tidak ke puncak. Ya, akhirnya kami berharap pada kedua teman kami, begitu turun dari puncak bisa sarapan dengan segera. 🙄

Pukul 00.30 kami siap untuk berangkat, dan berdoa. Baru kali ini aku muncak dengan harapan sangat agar muncak kali ini aku bisa lebih sabar. Dan aku berjanji tidak akan memaksakan diri untuk sampai di puncak. Walaupun keinginan itu tetap kuat.

Jika sebelumnya, tanjakan cinta merupakan tanjakan yang fenomenal, maka percayalah kawan, tanjakan itu tidak ada apa-apanya, dibandingkan dengan tanjakan menuju puncak.

Perjalanan ke Arcapada diawali dengan turunan, dan selanjutnya yang ada hanyalah naik, nanjak, dan naik. Cukup sering aku harus break, ditambah dengan macetnya jalur karena ramainya yang muncak. Dalam temaram malam, teman-teman yang belum kuhapal namanya satu-satu dan ditambah penerangan yang hanya berupa senter, aku sudah tidak tahu lagi, siapa yang di belakang dan di depanku, siapa yang telah memberiku air hangat di tengah perjalanan, yang pasti aku terima kasih banget deh.  Yang kulihat sepanjang perjalanan hanya kaki-kaki dan sepatu. Menunduk sangat ketika aku nanjak waktu itu.

Sesaat sebelum sampai arcapada, ada ruang terbuka, dan nampaklah kota dengan cahaya lampu bak kapal pesiar.

(di daerah puncak terdeteksi sinyal untuk operator indosat, telkomsel, tapi belum coba apakah jaringan datanya juga bagus)

Sampai arcapada sekitar pukul 2, dan sebelum sampai cemoro tunggal yang sudah tidak ada lagi karena longsor, kami pun break lagi. Langit pada dini hari itu terang banget kawan, mungkin langit yang kulihat kemaren malam gak jauh beda dengan yang kulihat sekarang, hanya saja sekarang jarak dengan langit itu lebih dekat dari kemaren.

(dan tidak seperti biasa, aku tidak mengabadikan langit malam di semeru dengan google skymap seperti biasanya, ini jadi alasan untuk balik lagi kesana)

Dan jalur pasir itu akhirnya ketemu kawan.. siap kah?

Bismillah…

Kalo aku bilang sih, istilah 5cm itu cocok juga untuk perumpaan pencapaian puncak mahameru. Hanya berjarak 5cm dari kening, tapi selamanya akan berjarak. Sungguh puncak itu begitu dekat di mata, tapi jauh di kaki. mengusahakan tiap langkah, tapi tatapan ke arah puncak, masih tidak berubah juga jaraknya. tetap berjarak.

Jalur pasir itu akan mengantar kita ke beda ketinggian langsung 600m. Sebenarnya itu dekat kalo gak pake acara melorot, gitu kata temenku. Selangkah-selangkah naik, kemudian merosot, naik lagi, merosot lagi. Sempet juga karena mengharapkan tanah yang agak keras, hampir terperosok jatuh ke samping 😦 . Sampai sini, aku sudah hampir putus asa, kawan. Kepala mendongak ke atas, dan bergumam “Ya Allah, bisa gitu aku sampai di sana?” Akhirnya, keinginan untuk sholat berjamaah shubuh di puncak, kandas, aku hanya bisa melakukannya di jalur itu, sambil berusaha untuk tidak melorot ke bawah >.<

Tapi, keputusasaan itu tak bertahan lama. Banyak teman seperjuangan untuk mencapai puncak, dan antara kami, saling menyemangati, dan saling meminjamkan tongkat untuk membantu naik. Tapi ketika diberi tongkat, dan aku mencobanya, megang tongkat saja sudah gak kuat :D. dan berbagi makanan dan air pun dilakukan dengan pendaki lainnya. 🙂 aku sama sekali gak kenal mereka, tapi memang ketika kita dalam perjuangan yang sama, kita jadi merasa sudah kenal lama (at least jadi sok kenal gitu deh? 👿 )

Akibat makan malam kurang banyak, kurang makan dan kurang minum plus ngantuk kali  ya (banyak alasan 🙄 ). Padahal dari tadi sudah ngemilin kurma dan coklat. Karena sadar gak akan sampe puncak dalam waktu dekat, aku pun meminta temanku yang dampingi aku untuk duluan saja. Karena waktu untuk di puncak ada batasnya. Jangan sampai gara-gara aku, jadi pada batal muncak.

Dan aku sebisa mungkin melanjutkan perjalanan. Sepuluh langkah berhenti, istirahat, waktu istirahatnya lebih lama dari waktu jalannya, bahkan sering tertidur selama jeda rehat itu 😦 ( dan ini bener-bener jangan ditiru, tidak bagus buat metabolisme >.< )

Sempat rasanya merasa bahwa mahameru begitu sombong, begitu angkuh, sehingga memberikan jalan yang sulit pada kaki untuk berpijak, dan gak mengijinkan untuk berhenti. berhenti maka kita akan kembali turun.

tapi, mungkin itu inti dari perjalanan ini, bagaimana cara menaklukkan keputusasaan diri, dan bagaimana kita bisa memotivasi diri sendiri ketika yang lain pun berusaha dengan dirinya sendiri.

Mahameru hanya ingin dipijak oleh orang-orang yang benar-benar ingin, dan yang berhasil mengalahkan egonya sendiri.

Cemungudh… ^^

Jam 7.45 akhirnya kakiku menginjak puncak. Alhamdulillah, maksud hati ingin sujud syukur, malah yang ada langsung rebahan, sementara waktu gak minat dengan foto-foto ria. Dan lapar pun makin terasa. Terselamatkan dengan beberapa potong jelly. Dan langsung ku habiskan. Maaf ya teman-teman. Jadi habis perbekalan.

Segera aku bertayamum, ingin melakukan sholat dhuha di sana, tapi teralihkan dengan pemandangan seseorang yang melakukan sujud syukur panjang,dan arak-arakan awan di sana. Duh Gusti nu Agung, Hapunten deui…

Lanjut foto-foto lah, dan setelah masing-masing sudah menuaikan hajatnya, termasuk yang punya modus tukar PIN :P, kami pun turun.. dengan riangnya berseluncur dan foto-foto, walaupun sudah tidak ada air lagi yang tersisa. Yang penting sudah sumringah semuanya, termasuk aku :D. ku semangati mbak-mbaknya yang masih berjuang naik, “ayo mbak, turunnya asik loh, cepetan nyampe”

5Km :mrgreen:

5Km :mrgreen:

3676 mdpl

3676 mdpl

Ya, cerita selanjutnya turun ke kalimati, masih diwarnai dengan kekurangan air, dan minta-minta air ke sesama, dan ke rumput-rumput di sepanjang jalur.. heheheheh

Sampai di Kalimati, rehat bentar, saling isi ‘buku tamu’ (dan dari sini, aku baru hafal semua nama teman-teman baru yang mereka menyebutnya sebagai Arjuna Enam, dengan logo bendera yang unik, suka dengan bendera mereka 😀 ), masak-masak (walaupun aku hanya sebagai pemerhati saja ketika yang lain pada masak), packing-packing, berfoto-foto dan berangkat menuju ke Ranu Kumbolo.

Perjalanan kali ini, lebih didominasi oleh hujan, yang membuat perjalanan menjadi segar, dan sesekali aku menengadahkan kepala, langsung menampung air hujan ke mulut :D, serta didominasi oleh pembicaraan belerang yang berlangsung sampai hari kemaren..:))

rehat dulu :D

rehat dulu 😀

meninggalkan Kalimati

meninggalkan Kalimati

Jambangan

Jambangan

Oro-oro Ombo(melipir ke bukit sebelah, nampak 'circle crop di sana :cool: )

Oro-oro Ombo
(melipir ke bukit sebelah, nampak ‘circle crop di sana 😎 )

semeru_31

merangsuk ke sabana Oro-oro Ombo :mrgreen:

Sekitar pukul 16.00, kami sampai kembali di Ranu Kumbolo. Niatnya hanya sampai jam 18.00 tapi lanjut sampai pukul 20.00

Di sini, terjadilah ritual bebersih, niat hati ingin nyebur mandi ke rakum, tapi tangan nyelup ke airnya saja sudah tak sanggup dinginnya.

Dan masak-masak  pun kembali terjadi, kali ini benar-benar penghabisan logistik. Dan lagi-lagi aku hanya jadi pemerhati para koki-koki itu. Kapan lagi coba, aku dimasakin ma koki-koki gunung. Hehehehe… walaupun kadang lucu lihat cara mereka memasak. Masakan kali ini jadi menu makan malam dan bekal selama perjalanan.

Yah, perjalanan malam dari Ranu Kumbolo ke Ranu Pani, berbeda dari perjalanan dari Ranu Pani ke Ranu Kumbolo, walaupun dilakukan dalam waktu yang sama. Selama perjalanan balik, ternyata banyak juga yang datang dan baru naik.

Tapi perjalanan malam itu lebih ramai dari yang sebenarnya, gak akan aku bahas deh, karena itu hanya akan menjadi pengalihan isu dari topik 5cm yang menjadi obrolan sepanjang jalan 🙄 , perjalanan terasa makin panjang,  mungkin karena dikebut dari muncak sampai ke ranupani. Badan yang cukup lelah, dan sempat tidur di pos 1.  Perjalanan dari pos 1 ke ranu pani, aku jalan sambil setengah terpejam, beberapa kali terpantuk, hampir jatuh.. hapunten ya kawan-kawan :mrgreen:

Perjalanan kali ini, ditemani oleh bulan  yang makin mendekati ke purnama. Walaupun sore tadi hujan, tapi malam ini, cukup cerah. Dan ketika hampir sampai ke Ranu pani, menyempatkan diri mengintip langit dari Google Skymap, sambil membantu membawa gembolan sampah, tercapture ada Jupiter sebelah utara.. terang banget. Dan ada gugusan orion yang sangat kuhapal  bentuknya. Selebihnya tak jelas aku melihatnya. Meskipun sangat terang di langit, tapi kurang focus lihat di phone ku.. 😀

25 Desember 2012

Sekitar 3.30 akhirnya bisa merebahkan diri di mushola, walaupun bener-bener terlelap sekitar pukul 4an, karena sempat tercuri dengar percakapan tentang perjalanan sebelumnya, walaupun hanya sayup-sayup..

Ranupani

Ranupani

Pukul 5 terbangun kaget, langsung shubuhan dengan keadaan tubuh menggigil… dan terhitung jumlah teman-temanku yang lengkap masih terlelap. Alhamdulillah Lengkap 😉

Mungkin masih banyak yang belum terungkapkan, tapi biarlah itu  menjadi bahan perbincangan kita saat perjumpaan berikutnya. Yang jelas, aku punya beberapa alasan untuk kembali lagi:

  1. Melihat rakum dari atas dari jalur pos 4 saat matahari masih ada
  2. Melihat oro-oro ombo sedang dalam musim semi
  3. Mandi di rakum
  4. Melihat sunrise di beberapa tempat di semeru
  5. Ambil air di sumber mani
  6. Capture gugusan bintang
  7. Dll

Walaupun hanya dengan ‘kangen’, sudah cukup menjadi alasan untuk balik ke sana… (bener kata-kata orang, tempat itu memang ngangenin)

Penampakan Bromo

Penampakan Bromo

Terima kasih teman-teman, Kak roni dan Indah, serta teman-teman baru dari Arjuna Enam, kalian memang ’Orang Gila’, many thanks Fref, Fatkur, Viday, Deni, Widy, Sony, dan Bayu (kalo ketemu lagi tar kalahin Sony dalam hal memasak ya  :mrgreen: ), semoga kalian gak kapok jadi trip-mate ku :mrgreen:

ingin membaca, dari versi temen-teman yang lain juga, cerita perjalanan ini 🙂

fullteam :cool:

fullteam 😎

Dan teman-teman di rombongan awal Aming, Anwar, Fahmi, Nina, Saiful dkk yang belum sempat berkenal secara keseluruhan.

Semoga ada kesempatan untuk melakukan perjalanan lagi bareng kalian.

Baru saja berakhir
Hujan di sore ini
Menyisakan keajaiban
Kilauan indahnya pelangi

Tak pernah terlewatkan
Dan tetap mengaguminya
Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa dibeli

Bersamamu ku habiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

(sahabat Kecil by Ipang)

Bandung, 4 Januari 2013

Salam

M. Ike S.

#untuk sebuah artwork yang kulakukan di sana untuk ibuku. Walaupun satu kata tidak terselesaikan di sana… dan langsung membayar hutang satu kata di pekan berikutnya 😉
dan sebuah kata di puncak itu, yang memotivasi aku untuk bisa sampai di tanah tertinggi di Pulau Jawa ini.
Mom, I love you, and everyday will be mother’s day for me

Mom, Happy mother's day

Mom, Happy mother’s day

(sumber foto: dokumen pribadi dan dokumen teman-teman perjalanan 🙂 )

#Catper: Semeru 22-25 Desember 2012 (bagian 2)

negeri1

soundtrack selama perjalanan selama 2 trip terakhir, dan kali ini tulisan ini pun akan diawali dengan senandung ini..

Perjalanan kali ini, dipenuhi dengan nuansa hujan, gerimis, kabut, awan, dan teman baru ^^

Perjalanan kali ini, sudah menjadi  keinginan yang terpendam cukup lama :mrgreen: tanggal berangkat sudah ditentukan tapi tanggal pulang belum, karena menunggu kepastian cuti (dan akhirnya hanya dapat ijin sehari itupun tiket udah pada habis)

21 Desember 2012

Hari keberangkatan, tapi ya tetep paginya masih berkecimpung dengan hal-hal kehidupan normal. disela-sela penghabisan perkuliahan, aku baru buat surat sehat, di puskesmas dekat kampus.

Saat bagian administrasi dan dokter menanyakan tujuan keperluan pembuatan surat sehat itu, tampak kaget. Mungkin ini baru pertama kali ada yang minta surat sehat ke puskesmas ini dengan tujuan bukan untuk melamar PNS 😀

dan akhirnya setelah tiba waktu jum’atan dan makan siang, aku pulang, untuk menyelesaikan packing dan berangkat ke stasiun.

sekitar pukul 14.00, aku mulai berangkat menuju stasiun Kiara Condong, dengan harapan lebih cepat dan lebih dekat daripada harus ke stasiun Bandung. Tapi  Bandung sore itu, hujan cukup deras, dan sebagai akibat hujan deras adalah banjir dan macet di titik-titik tertentu. yang awalnya aku harus naik angkot hanya 2 kali, menjadi 3 kali plus.

Pasar Kordon, banjir parah, sehingga perubahan rute angkot pun bertambah. sampai dengan daerah Kiara Condong, banjir tetap mewarnai, di samping macet di setiap persimpangan. Sampai akhirnya pukul 15.20 masih macet, dan angkot stuck tidak berjalan, makin khawatir dengan jadwal kereta yang berangkat dari stasiun Bandung jam 15.30. setidaknya ada jeda skitar 10  menit untuk sampai di Stasiun Kiara Condong. Tapi karena harus jalan kaki, dari jalan raya ke pintu masuk stasiun, sementara jalannya angkot tidak bisa aku harapkan lagi, aku meminta pada salah seorang penumpang angkot yang duduk di samping pintu, untuk menghentikan sebuah motor, dan kujadikan ojek cabutan. (duh, Gusti nu Agung, hapunten…)

Kereta datang ^^ sudah bisa menghela napas

Kereta datang ^^ sudah bisa menghela napas

22 Desember 2012

tiba di Stasiun Malang sekitar pukul 08.19. dalam kondisi sudah sarapan Pecel Madiun 2 bungkus, sudah puas tidur, dan belum mandi :D. mendapat kabar dari teman bahwa bus mereka masih di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur, aku jadi agak berleha-leha di stasiun. Walaupun ada keinginan untuk mendahului ke Bromo dulu sambil nunggu mereka, tapi lihat sikon dulu deh nanti, begitu pikirku dulu. Begitu turun dari kereta, selalu dan selalu setiap aku ke kota Malang, langsung menuju ke toilet, sekalian bebersih, repacking, dan dhuha serta istirahat bentar. Iseng sapa-sapa orang, ternyata banyak rombongan yang mau ke Bromo. dan ketika hendak meninggalkan stasiun, ada yang nyapa aku, dan ketika tahu aku mau ke semeru juga, mereka ngajak barengan menunggu. kebetulan rombongan mereka juga sedang dalam perjalanan ke Malang juga. tapi bedanya denganku, rombongan mereka sampai malang dengan kereta Majapahit.  Pukul 10 juga sudah sampai, lah rombonganku masih gaib kapan nyampenya.,,, Sambil nunggu sambil sarapan (lagi) bareng dengan membungkus di warung dalam stasiun. sebenarnya sih, tadi ngebungkus buat makan siang aja, tapi lihat temen makan, aku kok jadi pengen makan juga.. 👿  #hammer

jam 10 an rombongan teman datang, dan ngobrol-ngobrol bentar, aku diajak bareng ke Tumpang (Alhamdulillah ada barengan 😎 ). kami menyewa angkot, jumlah total rombongan 9 orang. (dan yang pada akhirnya aku lupa iuran, karena saat mau setor duit dibilang nanti-nanti aja, sampai kami berpisah di Tumpang )

Gak jadi ikut, tapi ikut nggaya dulu depan jeep :mrgreen:

Gak jadi ikut, tapi ikut nggaya dulu depan jeep :mrgreen:

Karena, rombonganku tak kunjung datang, akhirnya aku membiarkan mereka untuk pergi ke Ranupani terlebih dahulu. hal ini berlangsung sampai beberapa rombongan. Sampai bapak makelar jeepnya sepertinya iba denganku, hujan turun. Bapaknya beli roti goreng hangat dan diberikannya ke aku. tempat duduk yang kebasahan, dicarikan lagi tempat berteduh yang bebas basah.. so sweet lah.. Kayaknya kasihan banget lihat aku yang sudah berjam-jam menunggu kawan, dan ditinggal oleh beberapa rombongan lain.. (edisilebay) 🙄

hehehe.. gak segitu ya ah, toh dari sini, aku jadi kenalan dengan banyak orang, walaupun hanya ingat sesaat, sudah lupa nama, jadi saat ketemu di rakum/kalimati/puncak hanya bisa ber-HAI aja 😀

sekitar pukul 3.30an akhirnya rombonganku yang ternyata fix bertambah 2 orang datang juga. Langsung melengkapi logistik yg menurut temanku masih kurang,(padahal sambil nunggu aku sudah belanja-belanja, masih kurang aja). mereka datang sesaat setelah ada beberapa rombongan datang. dan berangkatlah menuju ke Ranupani, by jeep..yang akhirnya karena masalah administrasi, jadilah rombongan se jeep ini, jadi kawan perjalanan selama di Semeru.. ini salah satu yang membuatku senang, dapat teman baru ^^

Saat meninggalkan Tumpang, sedang hujan, jadilah kami naik jeep dengan bertutupkan terpal, tapi dasar aku yang suka ngintip-ngintip, terpalnya pun kubuka sedikit biar bisa lihat pemandangan luar. Semoga saat itu, teman-teman yang lain tidak terganggu. tapi tak berapa lama, hujan reda kawan.

suasana jalan di awal menuju ranupani :)

suasana jalan di awal menuju ranupani 🙂

dan lihatlah, dalam perjalanan menuju Ranupani, tak henti-hentinya mulut ini bertasbih dalam senyuman… Indah.. sungguh indah, hijau, putih. bukit-bukit itu, dikemas dengan kabut dan awan, jejeran pegunungan bromo sebelah kiri, bukit-bukit sebelah kanan… hanya mata ini yang sanggup mengabadikan secara sempurna. ditambah dengan suasana sendu sehabis hujan di sore itu, awan sudah mulai menggiring matahari untuk terbenam. Tuhan, negeri ini sungguh sangat indah.

scene sepanjang perjalanan di sore itu

scene sepanjang perjalanan di sore itu

jalanan nanjak dan langit sore itu :roll:

jalanan nanjak dan langit sore itu 🙄

Adzan magrib berkumandang, saat kami tiba di Ranupani. langsung lanjut repacking, registrasi, sholat, makan. dan akhirnya memutuskan tracking ke Ranu Kumbolo malam itu juga. sekitar pukul 20.18 kami mulai tracking. (dan sampai detik ini, aku hanya manggil mas, kang, aa’ untuk teman-teman baru yang menjadi teman seperjalanan.. :mrgreen: )

Perjalanan ini dimulai kawan, aku masih berharap kau ikut berjalan bersamaku. Perjalanan malam untuk tracking ke sekian kalinya yang aku lakukan. Harusnya perjalanan malam lebih cepat dari perjalanan siang, fokus dengan jalan, dibandingkan siang akan lebih lama karena tergoda dengan pemandangan yang indah,  udara dingin  akan kalah oleh panasnya tubuh kita. Keseraman malam akan kalah oleh kebersamaan kita. rulenya sederhana,tetap berjalan, jangan paksakan diri, dan say break jika ingin istirahat. (ini salah satu bagian yang kusuka 😀 ), tapi setiap kali break, setiap itu juga aku ketiduran.. ini gak bagus saudara-saudara.. metabolisme tubuh jadi naik turun ekstrem.. (kayaknya penyakit ngantukku belum sembuh juga apalagi di jam-jam tidur kyk gini)

perjalanan yang seharusnya 4 jam, kami pun sampai di Ranu Kumbolo sekita pukul 3 pagi. banyak istirahatnya kali ya :D.

antara Ranu Pani dan Ranu Kumbolo, terdapat 4 pos. pos satu jalur sedikit menanjak, pos 1- pos 2 lumayan datar, pos2-pos3 lumayan jauh, kalo aku gak salah ingat, di sini ada jembatan kayu, kalo pas jalan siang, bisa lah konser di jembatan ini :D.  setelah pos 3 ada jalur yang nanjak banget, dan shelter di pos 3 ambruk (entah sengaja atau tidak diambrukkan, di sini ada mitos yang beredar). Antara pos 3 dan pos 4, kita sudah berada di bukit yang menghadap ke Ranu Kumbolo. kelip-kelip senter dan lampu tenda sudah terlihat. dan coba matikan senter kita, maka akan terlihat remang-remang air Ranu Kumbolo. Dengan sedikit bantuan penerangan  bulan menuju purnama, danau itu terlihat. Aku berharap kau ada bersama ku untuk menikmati momen ini kawan. Rasa lelah sedikit terobati dengan pemandangan sendu temaram ini. dan sedikit mendongakkan kepala, langit begitu indah. mungkin ini yang disebut oleh orang-orang dengan gugusan bintang di atas Ranu Kumbolo..

indah, indah sekali kawan. tak henti mulut ini bertasbih. nikmat yang tidak akan aku dapat dengan hanya meringkuk di dalam kamar.(pas nulis ini, aku jadi rindu banget dengan suasana itu:( )

23 Desember 2012

Sampailah di Ranu Kumbolo, segera mendirikan tenda, jika yang lain segera menyalakan kompor dan membuat yang hangat-hangat, aku lebih memilih untuk masuk ke sleeping bag begitu tenda selesai berdiri.. rasa ngantuk mengalahkan rasa lapar dan dingin..

jam 5 terbangun.. suhu menunjukkan 10 derajat. Sayup-sayup terdengar suara di luar sana. aku intip keluar. berkabut. gak kuat dingin, akhirnya aku tayamum dan sholat shubuh di tenda. ingin menikmati sunrise, tapi berkabut sekali dan dingin sekali… tetangga tenda juga belum terdengar tanda-tanda kehidupan, akhirnya aku menunggu dulu dalam tenda saja.

pagi berkabut

pagi berkabut

bukan tanjakan cinta :P

bukan tanjakan cinta 😛

Sekitar pukul 6, kehidupan sudah mulai ramai. Saatnya masak-masak, sarapan, foto-foto, packing-packing, dan lain-lain

around Rakum ;)

around Rakum 😉

Sekitar pukul 9-10an, kami berangkat menuju Kalimati. Dan sedikit menelusur rakum, sampai pada titik pusat camp rakum, ternyata sisi lain di rakum lebih rame dari tempat camp kami tadi.

rehat dulu :p

rehat dulu 😛

Dan disitulah spot foto-foto rakum yang utama, ada prasasti juga di sana, dan aku belum melihatnya, kelewat terus, berjanji akan melihat waktu pulang saja (dan terlewat juga waktu perjalanan pulang 🙄 ), dan tentunya ada tanjakan cinta di depan, langsung kuhela napas begitu melihat tanjakan itu. Tidak perlu lah aku cerita tentang tanjakan fenomenal itu. Teman-teman cukup asyik dengan tanjakan itu, dan tentunya aku yang iseng pun mencoba main-main di tanjakan itu, berhenti (karena emang ngos-ngosan), dan menengok ke belakang, dan lihatlah cantiknya rakum dilihat dari sini. Kawan, andai kau bisa merasakan apa yang kurasakan, ditengah napas ngos-ngosan, disuguhi indahnya rakum.. sampai puncaknya rakum pun, break untuk berfoto ria, dan mereview siapa saja yang berhasil melakukan misinya di tanjakan itu.. 😛 (pada terbukti sudah ada hasil gak?)

rugi kalo gak nengok ke belakang :P

rugi kalo gak nengok ke belakang 😛

rakum dari tanjakan cinta, makanya sering-sering negok ke belakang ;p

rakum dari tanjakan cinta, makanya sering-sering negok ke belakang ;p

Tanjakan Cinta

Tanjakan Cinta

Setelah rakum, jalan sebentar dan lagi-lagi mulut ini tak bisa berhenti bertasbih, ada Oro-Oro Ombo di depan, dan turunan yang sama tajamnya dengan tanjakan cinta. Walaupun lagi kering dan baru muncul tunas-tunasnya, pemandangan itu tetap indah. Berhenti sebentar untuk menikmati alam ini.

oro oro ombo di depan sana

oro oro ombo di depan sana

Dan kami berisitirahat di pos Cemoro Kandang. Makan-makan, foto-foto, cerita-cerita, dan sampai detik ini aku masih belum tau nama-nama teman perjalananku ini :mrgreen:

Bisa dihitung kan berapa kali dalam waktu singkat kami break berisitirahat 😛

Dalam perjalanan ke Cemoro Kandang sampai ke Jambangan, jalan yang kami tempuh naik turun, katanya sih habis tanjakan terus turun ke Kalimati, tapi nyatanya, berapa naik turun yang harus dilewati, sempat merasa putus asa, karena gak nyampe-nyampe. Tiap ada orang yang balik arah , selalu bertanya “kalimati berapa lama lagi yah?”, ya jawabannya ada yang bikin makin lemes, ada yg bikin nambah semangat. Kayaknya latihan fisik sangant kurang, apalagi seminggu terakhir kurang tidur. Sekarang hanya semangat yang bisa menyemangati :D..dari sebuah area terlihat oro-oro ombo dari dari jauh, ya, cukup mengobati. Dan teman yang mungkin berfungsi sebagai tim sweeping pun aku minta untuk duluan saja, asal jalurnya sudah jelas, gak masalah aku jalan sendiri. Tapi selama perjalanan ini, perkenalan pun satu demi satu dimulai, akhirnya tau nama juga.. hehehe, walaupun belum semua.. memang jangan semua sekaligus nanti lima menit kemudian bisa lupa lagi 😀

Begitu melewati jalan nanjak terakhir, mulai memasuki hutan yang banyak padang rumput dan mulai ada edelweisnya. Walaupun tak berbunga, tapi tetap nampak cantik, masuk juga area pepohonan rapat, yang jika jalan sendirian, aku mulai merasa megidik, apa ya istilahnya, semacam bulu kuduk berdiri, tapi rasa itu aku halau dengan foto sana-sini, dengan kemampuan kamera yang sudah pas-pasan. Mencoba membidik scene yang tak bosan ku menatapnya. Ini juga yang bikin perjalanan makin lama.

sampai di pos yang bertuliskan jambangan, aku istirahat sebentar, dan ketemu dengan pendaki lain. Tanya-tanya, “ mbak sendirian saja?”|gak, ama temen| “anak pala?”| bukan| “gara-gara 5cm ya?”| >.< , memang yang boleh ke gunung hanya anak  pala atau anak korban film ya? Duhhh bener-bener jadi ajang latihan sabar..  dijawab dengan cengiran aja 😀

dan tak lama kemudian, tampaklah kerumunan tenda, huft… mungkin ini surga tujuan, akhirnya sampai. Tapi ternyata, gak sampai di situ, rombongan yang bertiga, harus mencari rombongan barengan kita…   keliling-keliling pasrah, akhirnya ketemu juga…

Kalimati, tempat kita ngecamp sebelum muncak..

#bersambung di sini

(sumber foto: dokumen pribadi dan dokumen teman-teman seperjalanan 🙂 )

Catper Semeru (bagian 1 versi singkat)

Daripada nunggu kelamaan kelar nyelesain tulisan catper yang agak lebay, ditulis dulu deh versi singkatnya…

21 Desember 2012
Berangkat menuju Malang dari Bandung, via kereta Malabar, waktu itu dapat tiket dengan harga 165ribu, kereta kelas-3. menurut obrolan engan penumpang sebelah, dia pesan dalam waktu yang dekat harga ternyata lebihmahal, jadi kayaknya pesan jauh2 hari bisa mendapatkan harga lebih murah.

Aku naik dari stasiun Kiara Condong, kereta ini brangkat dari Stasiun Hall pukul 15.30, jeda waktu sekitar 10-15 menit untuk sampai di Stasiun Kiara Condong. dari Bojongsoang bisa ikut angkot dayeuhkolot-kordon, trus jalan ke pasar kordon sambung naik ciwastra-cicadas. berhubung kemaren kordon banjir, jadinya  disambung dengan buah batu-sederhana (warna biru) turun di perempatan buah batu, terus nyambung pake angkot cibaduyut-cicaheum (warna merah). Turun di deket rel kereta api, jalan aja menuju pintu stasiunnya..  Kereta lewat di Jalur 2, jalur itu berada di selatan, jadi kalo masuk lewat pintu selatan lebih dekat.

kalo gak naik angkot, bisa bawa motor, kalo tarif di stasiun bandung yang bagian selatan sekitar 7500/hari, kadang bisa ditawar asal pintar ngrayu bapaknya 🙄 , kalo di pintu utara lebih mahal, kalo gak salah 9000/hari.

Kereta Malabar itu, satu kereta dengan 3 kelas, cuma beda gerbong, jadi keikut cepet ama kelas 1. gak terlalu ngalah kayak kereta-kerata yang murni kereta kelas 3, tapi ya itu agak sedikit mahal.

22 Desember 2012

Baru sampe stasiun Malang jam 8.10an, jadwalnya sih jam 7.05, tapi kereta telat sejam selaam ini masih wajar aja. Bisa beli makan pecel madiun saat di stasiun Madiun, nyampe masiun sekitar sebelum subuh. satu bungkus 3000, tapi kemaren waktu beli gak seperti biasanya, kemaren hanya pake lauk sundreng, biasanya pake lauk tempe atau tahu. tapi tetep enak sih dengan harga segitu, aku beli dua, karena takut beebrapa jam lagi masih lapar, jadi satu dimakan saat itujuga,d an satunya dimakan sebagai sarapan. eh, iya kalo beli pecel madiun, jangan sungkan untukmilih yang masih hangat, lebih enak. 😉

Di stasiun Malang terdapat pilihan toilet, ada yang gratis ada yng berbayar, kalo yang gratis hanya bisa untuk fungsional dasar aja, kalo yang berbayar enak untuk mandi, dan di sebelahnya lagi juga ada tempat untuk charging, sekitar 2000 sekali charging, mandi juga 2000 sekali mandi. tempatnya dekat mushola. sekalian bisa istirahat di situ. kalo mau beli makan juga ada di stasiun, walaupun menurutku agak mahal.

Kalo mau ke semeru, tujuan pertama dari Stasiun biasanya ke Pasar tumpang, bisa naek angkot dulu ke terminal arjosari (naik angkotnya ke arah seberang stasiun ongkos 3000), lalu cari angkot lagi yang menuju ke tumpang (ongkos gak tahu, sebaiknya cari tahunya tanya ke sesama penumpang aja). tapi kalo banyakan bisa langsung carter angkot atau mobil depan stasiun. tarif normal sih 100ribu/angkot atau setidaknya paling mahal 10ribu lah per orang.

pusat pemberhentian di pasar tumpang sepertinya di Alfamart. sekalian kalo mau stok logistik, sedangkan kalo mau beli-beli sayur mayur ya di pasarnya aja langsung, di seberangnya alfamart itu sudah pasar. bagian sayur mayur agak ke selatan, kalo gak salah di situ juga ada puskesmas, barangkali ada yang belum punya surat sehat bisa bikin di situ, dan jangan lupa juga untuk fotokopi KTP dan surat sehatnya, masing-masing 2 copy, deket alfamart itu ada tukang fotocopyannya juga.

di Alfaamrt juga bisa numpang toilet kalau mau. tapi deket situ juga ada masjid, sekalian nunggu jeep, sekalian sholat dulu.. masjidnya masuk gang sekitar 100 meter. masjid nya bagus, disana disedian mukena, sarung, payung.

biasanya disitu ada makelar jeep nya, dan jeep akan berangkat minimal 15 orang, tapi kalo mau cepet ya bisa aja sedibaginya per orang. yang jelas tarif peer jeep 450ribu, kalo yang bak terbuka maksimal 18 orang, kalo bak tertutup sekitar 7 orang saja.

alternatif lain kata abang makelarnya ada truk sayur, tapi itu jam 4 pagi adanya. atau truk gedhe tapi kalo yang ini butuh orang lebih banyak, walaupun nanti jatuhnya lebih murah sih. tapi dari pengalaman kemaren lebih enak naek jeep dari pada truk.

dan mumpung masih di Tumpang, jika administrasi belum lengkap, di situlah kesempatan untuk melengkapi. termasuk materai 6000 per tim nya

selanjutnya perjalanan by jeep, mata akan dimanjakan oleh pemandangan yang indah banget kawan, nikmatlah.

kemudian sampai di pos ranupani, kalo mau ada barang yang ditinggal gak jadi dibawa, bisa dititipkan di warung bu erna, depan pos, disituada menu-menu rawon, kari ayam, teh manis hangat dll.

selanjutnya adalah track pendakian dengan pemandangan yang memanjakan mata, sala trackingnya di siang hari 😛

mungkin itu dulu kali ya.. untuk tempat camp bisa di Ranu kumbolo, Kalimati, dan Arcopodo. tapi Simaksi hanya sampai Kalimati aja ya kawan. setelah itu, resiko ditanggung sendiri 🙄

kalo kemalaman sampai ranupani, bisa nge-camp di situ, ato ada tempat singgah yang khusus untuk pendaki, tapi jauh dari toilet. di situ juga ada mushola, deket dengan toilet juga. tapi selama aku di situ, airnya cukup terbatas.

untuk versi lebay dari catper ini, ditunggu saja beberapa jam kemudian. :mrgreen:

(silakan lanjut ke sini 😀 –> http://wp.me/pciYL-dV)

Pagi yang (tidak) Biasa

Sudah ganti tahun ni.. ada beberapa candaan terkait dengan angka 13. Kalo ada beberapa hotel atau gedung yang skip kamar no 13 atau lantai 13, maka jika ingin skip tahun ini maka ganti aja dengan versi tahun 2012B atau 2014A.. hehehehe..
angka 1 dan 3 itu kalo disatukan knapa banyak timbul  mitos ya, itu mitos darimana sih, tradisi mana sih? kalo bagi teman2 PNS dulu sih angka 13 itu membawa kebahagiaan tersendiri, yaitu gaji 13.. hehehehe

dan jangan bertanya tentang resolusi pada ku, kecuali keinginan untuk punya kamera beresolusi tinggi dan bagus :mrgreen:
Bagiku tidak terlalu spesial hari ini, kecuali aku harus menggunakan kalender baru, tidur bangun juga seperti biasanya, selain hari ini libur, pekerjaan rumah juga masih seperti biasa.
yang gak biasa, menyengaja jalan-jalan pagi keliling komplek, sekalian cari sarapan yang ada hanya tukang gorengan. tukang sayur dan tukang kupat tahu/nasi kuning tidak/belum jualan. apa mereka meliburkan diri karena ini tanggal merah, atau ikut-ikutan begadang karena ganti kalender?>.<
rencana masak-masak pagi ini gagal deh..
tapi rejeki itu selalu ada kawan, kapanpun harinya… masih ada nasi liwet instan di rumah.. sarapan nasi liwet dengan kubelikan tambahan bala-bala..
lanjut dengan menghabiskan stok kedelai di kulkas, yang sudah kurendam dari kemaren, dan segera kublender, saring, rebus, tambah kayu manis dan gula jadi deh susu kedelai…
Sarapan pertama di tahun ini…

sudah separuh habis :D

sudah separuh habis 😀

dan kulanjutkan dengan menyicil hutang-hutang tulisan catatan perjalan di tahun 2012… ^^