Drop..

Hai kawan..

Aku baru pulang dari Jogjakarta.. Kota yang penuh kenangan. kemaren memang bukan kali pertama aku ke sana. Tapi selama ini, berapa kali pun aku ke berkunjung ke tempat yang sama, akan menghasilkan cerita yang berbeda.

Salah satu agenda ku ke Jogja adalah untuk berkunjung ke Merapi. Sedihnya, kejadian saat berkunjung ke Merbabu terjadi kembali. Dua gunung yang kukunjungi terakhir ini, tidak bisa aku nikmati dengan maksimal. Aku drop, sakit di tengah-tengah jalan. entahlah apa penyebabnya, kemungkinan utama dari jadwal makan yang kurang teratur.  Dengan kondisi seperti ini, aku jadi merasa tidak enak hati dengan teman teman yang lain. Aku sangat membuat repot. 😦

Karena penasaran, aku jadi pengen nyoba hiking yang ringan di papandayan. mencoba dengan hiking yang jadwal makannya selalu tepat waktu dan jenis makanannya pun yang bersahabat dengan asam lambung 😀

Ke semeru..

Sepertinya banyak yang sedang mencari cara bagaimana caranya ke semeru, jika tidak punya rombongan… sedikit share, saat saya ke sana, yang ternyata harus solo hiking ke semeru. Sendiri itu menyenangkan, tapi lebih menyenangkan jika kita punya teman berbagi.  setiap perjalanan saya ke sana titik awalnya dimulai dari Bandung.

terakhir ke semeru, awal mei tahun ini. dan tentunya, bisa jadi banyak hal yang berubah. jalan menuju ranupani dari arah tumpang pun sedang diperbaiki. jadi akan ada perbedaan, dari teman yang ke sana bulan november kemaren, perjalanan akan disambung oleh jalan kaki atau ojek 🙂

Dari Bandung menuju malang via kereta api malabar. Pada Kereta Malabar terdapat kelas 1- kelas 3 dalam satu rangkaian kereta yang sama. untuk jadwal kereta silakan langsung cek ke situs PT KAI.

Selain kereta Malabar alternatif lainnya, bisa menggunakan kereta api ekonomi kahuripan turun kediri dari situ menyambung bus menuju malang. atau menuju ke surabaya terlebih dahulu kemudian melanjutkan ke malang menggunakan bus. tapi saya belum pernah mencobanya.

  1.  Untuk kereta Malabar, Stasiun Kota malang, menjadi pemberhentian terakhir.
  2. Di stasiun ini jika rombongan, bisa mencarter angkutan umum depan stasiun untuk menuju pasar tumpang. tapi jika kawan hanya sendirian atau tidak mendapat jumlah rombongan yang cukup buat mencarter, bisa  naik angkot 2 kali untuk menuju Tumpang. pertama harus ke terminal arjosari, naik angkot yang jurusan ke terminal, Naik angkotnya dari seberang Stasiun agak ke kanan.  Sebelumnya bilang saja ke sopir angkotnya bahwa mau ke tumpang, nanti di terminal langsung dinaikkan angkot menuju tumpang. kemaren sih saya, di dalam terminal, tapi angkotnya tidak pake ngetem. Angkot menuju tumpang pun, pemberhentian terakhirnya di pasar tumpang.
  3. Baik naik angkot mandiri maupun carter, akan berhenti di pasar. Di pinggir Alfamart, di situlah biasanya angkutan jeep atau truk mangkal. tak jauh dari situ ada masjid sedikit masuk gang besar. jika ingin mampir sebentar untuk ISHOMA. di pasar tumpang dan alfamart ini umumnya digunakan untuk memenuhi keperluan logistik atau keperluan lain untuk pendakian beberapa hari kedepan. termasuk di dekat pasar terdapat puskesmas, jikalau surat keterangan sehat belum dipunya.  Sebelah Alfamart juga ada tempat fotokopi, dan bisa beli materai juga. 🙂
  4. dari tumpang menuju ranu pane. untuk jeep bayarnya per jeep, kalau truk bayarnya per orang. ketika saya sendirian kemaren, dan tidak ada tumpangan rombongan, saya ikut truk yang bayarannya per orang.
  5. Sampai ranu pane, daftar, list bawaan.. bayar administrasi.
  6. baliknya menuju malang, seperti hal nya berangkat, saya pun naik truk. bayar per orang. kalo ada jeep yang masih muat ya bisa ikut juga 😀
  7. sampai tumpang, aku naik angkot yang sedang ngetem deket alfamart, dan ternyata itu angkot yang sedang ngantri untuk carteran, dan jika tetep naik angkot itu, bayaran akan lebih mahal, karena ada biaya ‘preman’nya.  kemudian disarankanlah oleh abang angkotnya, untuk naik angkot ke arah sedikit menjauh dari tumpang. Jalan ke arah yang sama, sekitar 100 meteran, barulah bisa naik secara independen. angkot ini menuju Terminal Arjosari. jika ingin berlanjut ke stasiun, tinggal cari angkot menuju Stasiun Malang.

mungkin itu sedikit info dari saya, dan tetap jaga kebersihan dan keselamatan ya kawan. jangan tinggalkan sampah dan juga jangan tinggalkan sholat saat berhiking-ria 🙂

Jadikan setiap perjalanan itu, menambah rasa sabar dan rasa syukur kita.

Salam 🙂

Solo Hiking Semeru (9-12 Mei 2013)

Solo hiking—safety first

itu benar-benar kupegang..  Pastikan fisik, mental, dan perlengkapan dan peralatan dalam kondisi fit. Akupun memberanikan diri karena juga sebelumnya aku sudah pernah ke tempat ini, dan cukup tahu medannya seperti apa.

Sebenarnya dari awal, mencoba untuk mencari teman perjalanan. Sudah berhasil booking, tapi ternyata teman booking gagal berangkat. Sudah dapat teman yang akan langsung ketemu di Malang, ternyata tidak ketemu juga. Akhirnya jadilah aku menjalani solo hiking untuk pertama kalinya. (dan ternyata sistem booking di TNBTS belum berlaku  🙄 )

Musim Semi di ranu pani dan sekitarnya :)

Musim Semi di ranu pani dan sekitarnya 🙂

Sebenarnya, kalau dibilang solohiking, tidak sepenuhnya benar, toh selama perjalanan banyak ketemu teman baru, ngobrol, atau hanya bertukar salam dan semangat selama dalam perjalanan. Memang, saat itu merupakan longweekend, dan tentunya banyak yang ambil cuti untuk bisa jalan ke tempat yang masih menjadi tempat favorit. Selebihnya, yang menjadikan aku solo hiking karena semua peralatan: tenda, kompor dkk, serta logistic aku bawa sendiri. Walaupun masih belum bisa menerapkan sistem ultralight hiking, tapi hampir mendekati lah. :D. Continue reading

#Catper Semeru 22-25 Desember 2012 (bagian 3)

bagian sebelumnya

mahameru

3 tenda kami berdiri di bawah pohon, tak jauh dari Shelter pos Kalimati. Hujan pun turun setelah tenda berdiri. Hujan memberikan kami sumber air lebih :D. kegiatan selanjutnya yaitu masak-masak untuk makan malam, sholat, dan tidur untuk persiapan muncak… pasang alarm untuk bangun dan persiapan summit, pukul 23.00 bismika allhumma wa bismika amuut…

Krik krik… gak bisa tidur sampai jam 21.30… >.< haduuhhh harus bangun jam 23….

Keinginan yang kuat, akhirnya yang biasanya susah bangun, denger ribut-ribut dikit, dan alarm sekali bunyi langsung bangun. (pengen deh ini berlangsung di keseharian, tanpa harus me-snooze alarm setiap kali alarm bunyi).

Bikin makan malam bentar, karena aku-nya sendiri tadi belum makan. Kemudian lanjut makan, siap-siap, sambil merhatiin teman-teman tenda depan yang juga lagi bersiap-siap. Sambil lihat sekeliling, sambil sedikit pemanasan..

24 Desember 2012

Dari bersepuluh, dua teman memutuskan untuk tidak ke puncak. Ya, akhirnya kami berharap pada kedua teman kami, begitu turun dari puncak bisa sarapan dengan segera. 🙄

Pukul 00.30 kami siap untuk berangkat, dan berdoa. Baru kali ini aku muncak dengan harapan sangat agar muncak kali ini aku bisa lebih sabar. Dan aku berjanji tidak akan memaksakan diri untuk sampai di puncak. Walaupun keinginan itu tetap kuat.

Jika sebelumnya, tanjakan cinta merupakan tanjakan yang fenomenal, maka percayalah kawan, tanjakan itu tidak ada apa-apanya, dibandingkan dengan tanjakan menuju puncak.

Perjalanan ke Arcapada diawali dengan turunan, dan selanjutnya yang ada hanyalah naik, nanjak, dan naik. Cukup sering aku harus break, ditambah dengan macetnya jalur karena ramainya yang muncak. Dalam temaram malam, teman-teman yang belum kuhapal namanya satu-satu dan ditambah penerangan yang hanya berupa senter, aku sudah tidak tahu lagi, siapa yang di belakang dan di depanku, siapa yang telah memberiku air hangat di tengah perjalanan, yang pasti aku terima kasih banget deh.  Yang kulihat sepanjang perjalanan hanya kaki-kaki dan sepatu. Menunduk sangat ketika aku nanjak waktu itu.

Sesaat sebelum sampai arcapada, ada ruang terbuka, dan nampaklah kota dengan cahaya lampu bak kapal pesiar.

(di daerah puncak terdeteksi sinyal untuk operator indosat, telkomsel, tapi belum coba apakah jaringan datanya juga bagus)

Sampai arcapada sekitar pukul 2, dan sebelum sampai cemoro tunggal yang sudah tidak ada lagi karena longsor, kami pun break lagi. Langit pada dini hari itu terang banget kawan, mungkin langit yang kulihat kemaren malam gak jauh beda dengan yang kulihat sekarang, hanya saja sekarang jarak dengan langit itu lebih dekat dari kemaren.

(dan tidak seperti biasa, aku tidak mengabadikan langit malam di semeru dengan google skymap seperti biasanya, ini jadi alasan untuk balik lagi kesana)

Dan jalur pasir itu akhirnya ketemu kawan.. siap kah?

Bismillah…

Kalo aku bilang sih, istilah 5cm itu cocok juga untuk perumpaan pencapaian puncak mahameru. Hanya berjarak 5cm dari kening, tapi selamanya akan berjarak. Sungguh puncak itu begitu dekat di mata, tapi jauh di kaki. mengusahakan tiap langkah, tapi tatapan ke arah puncak, masih tidak berubah juga jaraknya. tetap berjarak.

Jalur pasir itu akan mengantar kita ke beda ketinggian langsung 600m. Sebenarnya itu dekat kalo gak pake acara melorot, gitu kata temenku. Selangkah-selangkah naik, kemudian merosot, naik lagi, merosot lagi. Sempet juga karena mengharapkan tanah yang agak keras, hampir terperosok jatuh ke samping 😦 . Sampai sini, aku sudah hampir putus asa, kawan. Kepala mendongak ke atas, dan bergumam “Ya Allah, bisa gitu aku sampai di sana?” Akhirnya, keinginan untuk sholat berjamaah shubuh di puncak, kandas, aku hanya bisa melakukannya di jalur itu, sambil berusaha untuk tidak melorot ke bawah >.<

Tapi, keputusasaan itu tak bertahan lama. Banyak teman seperjuangan untuk mencapai puncak, dan antara kami, saling menyemangati, dan saling meminjamkan tongkat untuk membantu naik. Tapi ketika diberi tongkat, dan aku mencobanya, megang tongkat saja sudah gak kuat :D. dan berbagi makanan dan air pun dilakukan dengan pendaki lainnya. 🙂 aku sama sekali gak kenal mereka, tapi memang ketika kita dalam perjuangan yang sama, kita jadi merasa sudah kenal lama (at least jadi sok kenal gitu deh? 👿 )

Akibat makan malam kurang banyak, kurang makan dan kurang minum plus ngantuk kali  ya (banyak alasan 🙄 ). Padahal dari tadi sudah ngemilin kurma dan coklat. Karena sadar gak akan sampe puncak dalam waktu dekat, aku pun meminta temanku yang dampingi aku untuk duluan saja. Karena waktu untuk di puncak ada batasnya. Jangan sampai gara-gara aku, jadi pada batal muncak.

Dan aku sebisa mungkin melanjutkan perjalanan. Sepuluh langkah berhenti, istirahat, waktu istirahatnya lebih lama dari waktu jalannya, bahkan sering tertidur selama jeda rehat itu 😦 ( dan ini bener-bener jangan ditiru, tidak bagus buat metabolisme >.< )

Sempat rasanya merasa bahwa mahameru begitu sombong, begitu angkuh, sehingga memberikan jalan yang sulit pada kaki untuk berpijak, dan gak mengijinkan untuk berhenti. berhenti maka kita akan kembali turun.

tapi, mungkin itu inti dari perjalanan ini, bagaimana cara menaklukkan keputusasaan diri, dan bagaimana kita bisa memotivasi diri sendiri ketika yang lain pun berusaha dengan dirinya sendiri.

Mahameru hanya ingin dipijak oleh orang-orang yang benar-benar ingin, dan yang berhasil mengalahkan egonya sendiri.

Cemungudh… ^^

Jam 7.45 akhirnya kakiku menginjak puncak. Alhamdulillah, maksud hati ingin sujud syukur, malah yang ada langsung rebahan, sementara waktu gak minat dengan foto-foto ria. Dan lapar pun makin terasa. Terselamatkan dengan beberapa potong jelly. Dan langsung ku habiskan. Maaf ya teman-teman. Jadi habis perbekalan.

Segera aku bertayamum, ingin melakukan sholat dhuha di sana, tapi teralihkan dengan pemandangan seseorang yang melakukan sujud syukur panjang,dan arak-arakan awan di sana. Duh Gusti nu Agung, Hapunten deui…

Lanjut foto-foto lah, dan setelah masing-masing sudah menuaikan hajatnya, termasuk yang punya modus tukar PIN :P, kami pun turun.. dengan riangnya berseluncur dan foto-foto, walaupun sudah tidak ada air lagi yang tersisa. Yang penting sudah sumringah semuanya, termasuk aku :D. ku semangati mbak-mbaknya yang masih berjuang naik, “ayo mbak, turunnya asik loh, cepetan nyampe”

5Km :mrgreen:

5Km :mrgreen:

3676 mdpl

3676 mdpl

Ya, cerita selanjutnya turun ke kalimati, masih diwarnai dengan kekurangan air, dan minta-minta air ke sesama, dan ke rumput-rumput di sepanjang jalur.. heheheheh

Sampai di Kalimati, rehat bentar, saling isi ‘buku tamu’ (dan dari sini, aku baru hafal semua nama teman-teman baru yang mereka menyebutnya sebagai Arjuna Enam, dengan logo bendera yang unik, suka dengan bendera mereka 😀 ), masak-masak (walaupun aku hanya sebagai pemerhati saja ketika yang lain pada masak), packing-packing, berfoto-foto dan berangkat menuju ke Ranu Kumbolo.

Perjalanan kali ini, lebih didominasi oleh hujan, yang membuat perjalanan menjadi segar, dan sesekali aku menengadahkan kepala, langsung menampung air hujan ke mulut :D, serta didominasi oleh pembicaraan belerang yang berlangsung sampai hari kemaren..:))

rehat dulu :D

rehat dulu 😀

meninggalkan Kalimati

meninggalkan Kalimati

Jambangan

Jambangan

Oro-oro Ombo(melipir ke bukit sebelah, nampak 'circle crop di sana :cool: )

Oro-oro Ombo
(melipir ke bukit sebelah, nampak ‘circle crop di sana 😎 )

semeru_31

merangsuk ke sabana Oro-oro Ombo :mrgreen:

Sekitar pukul 16.00, kami sampai kembali di Ranu Kumbolo. Niatnya hanya sampai jam 18.00 tapi lanjut sampai pukul 20.00

Di sini, terjadilah ritual bebersih, niat hati ingin nyebur mandi ke rakum, tapi tangan nyelup ke airnya saja sudah tak sanggup dinginnya.

Dan masak-masak  pun kembali terjadi, kali ini benar-benar penghabisan logistik. Dan lagi-lagi aku hanya jadi pemerhati para koki-koki itu. Kapan lagi coba, aku dimasakin ma koki-koki gunung. Hehehehe… walaupun kadang lucu lihat cara mereka memasak. Masakan kali ini jadi menu makan malam dan bekal selama perjalanan.

Yah, perjalanan malam dari Ranu Kumbolo ke Ranu Pani, berbeda dari perjalanan dari Ranu Pani ke Ranu Kumbolo, walaupun dilakukan dalam waktu yang sama. Selama perjalanan balik, ternyata banyak juga yang datang dan baru naik.

Tapi perjalanan malam itu lebih ramai dari yang sebenarnya, gak akan aku bahas deh, karena itu hanya akan menjadi pengalihan isu dari topik 5cm yang menjadi obrolan sepanjang jalan 🙄 , perjalanan terasa makin panjang,  mungkin karena dikebut dari muncak sampai ke ranupani. Badan yang cukup lelah, dan sempat tidur di pos 1.  Perjalanan dari pos 1 ke ranu pani, aku jalan sambil setengah terpejam, beberapa kali terpantuk, hampir jatuh.. hapunten ya kawan-kawan :mrgreen:

Perjalanan kali ini, ditemani oleh bulan  yang makin mendekati ke purnama. Walaupun sore tadi hujan, tapi malam ini, cukup cerah. Dan ketika hampir sampai ke Ranu pani, menyempatkan diri mengintip langit dari Google Skymap, sambil membantu membawa gembolan sampah, tercapture ada Jupiter sebelah utara.. terang banget. Dan ada gugusan orion yang sangat kuhapal  bentuknya. Selebihnya tak jelas aku melihatnya. Meskipun sangat terang di langit, tapi kurang focus lihat di phone ku.. 😀

25 Desember 2012

Sekitar 3.30 akhirnya bisa merebahkan diri di mushola, walaupun bener-bener terlelap sekitar pukul 4an, karena sempat tercuri dengar percakapan tentang perjalanan sebelumnya, walaupun hanya sayup-sayup..

Ranupani

Ranupani

Pukul 5 terbangun kaget, langsung shubuhan dengan keadaan tubuh menggigil… dan terhitung jumlah teman-temanku yang lengkap masih terlelap. Alhamdulillah Lengkap 😉

Mungkin masih banyak yang belum terungkapkan, tapi biarlah itu  menjadi bahan perbincangan kita saat perjumpaan berikutnya. Yang jelas, aku punya beberapa alasan untuk kembali lagi:

  1. Melihat rakum dari atas dari jalur pos 4 saat matahari masih ada
  2. Melihat oro-oro ombo sedang dalam musim semi
  3. Mandi di rakum
  4. Melihat sunrise di beberapa tempat di semeru
  5. Ambil air di sumber mani
  6. Capture gugusan bintang
  7. Dll

Walaupun hanya dengan ‘kangen’, sudah cukup menjadi alasan untuk balik ke sana… (bener kata-kata orang, tempat itu memang ngangenin)

Penampakan Bromo

Penampakan Bromo

Terima kasih teman-teman, Kak roni dan Indah, serta teman-teman baru dari Arjuna Enam, kalian memang ’Orang Gila’, many thanks Fref, Fatkur, Viday, Deni, Widy, Sony, dan Bayu (kalo ketemu lagi tar kalahin Sony dalam hal memasak ya  :mrgreen: ), semoga kalian gak kapok jadi trip-mate ku :mrgreen:

ingin membaca, dari versi temen-teman yang lain juga, cerita perjalanan ini 🙂

fullteam :cool:

fullteam 😎

Dan teman-teman di rombongan awal Aming, Anwar, Fahmi, Nina, Saiful dkk yang belum sempat berkenal secara keseluruhan.

Semoga ada kesempatan untuk melakukan perjalanan lagi bareng kalian.

Baru saja berakhir
Hujan di sore ini
Menyisakan keajaiban
Kilauan indahnya pelangi

Tak pernah terlewatkan
Dan tetap mengaguminya
Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa dibeli

Bersamamu ku habiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

(sahabat Kecil by Ipang)

Bandung, 4 Januari 2013

Salam

M. Ike S.

#untuk sebuah artwork yang kulakukan di sana untuk ibuku. Walaupun satu kata tidak terselesaikan di sana… dan langsung membayar hutang satu kata di pekan berikutnya 😉
dan sebuah kata di puncak itu, yang memotivasi aku untuk bisa sampai di tanah tertinggi di Pulau Jawa ini.
Mom, I love you, and everyday will be mother’s day for me

Mom, Happy mother's day

Mom, Happy mother’s day

(sumber foto: dokumen pribadi dan dokumen teman-teman perjalanan 🙂 )

#Catper: Semeru 22-25 Desember 2012 (bagian 2)

negeri1

soundtrack selama perjalanan selama 2 trip terakhir, dan kali ini tulisan ini pun akan diawali dengan senandung ini..

Perjalanan kali ini, dipenuhi dengan nuansa hujan, gerimis, kabut, awan, dan teman baru ^^

Perjalanan kali ini, sudah menjadi  keinginan yang terpendam cukup lama :mrgreen: tanggal berangkat sudah ditentukan tapi tanggal pulang belum, karena menunggu kepastian cuti (dan akhirnya hanya dapat ijin sehari itupun tiket udah pada habis)

21 Desember 2012

Hari keberangkatan, tapi ya tetep paginya masih berkecimpung dengan hal-hal kehidupan normal. disela-sela penghabisan perkuliahan, aku baru buat surat sehat, di puskesmas dekat kampus.

Saat bagian administrasi dan dokter menanyakan tujuan keperluan pembuatan surat sehat itu, tampak kaget. Mungkin ini baru pertama kali ada yang minta surat sehat ke puskesmas ini dengan tujuan bukan untuk melamar PNS 😀

dan akhirnya setelah tiba waktu jum’atan dan makan siang, aku pulang, untuk menyelesaikan packing dan berangkat ke stasiun.

sekitar pukul 14.00, aku mulai berangkat menuju stasiun Kiara Condong, dengan harapan lebih cepat dan lebih dekat daripada harus ke stasiun Bandung. Tapi  Bandung sore itu, hujan cukup deras, dan sebagai akibat hujan deras adalah banjir dan macet di titik-titik tertentu. yang awalnya aku harus naik angkot hanya 2 kali, menjadi 3 kali plus.

Pasar Kordon, banjir parah, sehingga perubahan rute angkot pun bertambah. sampai dengan daerah Kiara Condong, banjir tetap mewarnai, di samping macet di setiap persimpangan. Sampai akhirnya pukul 15.20 masih macet, dan angkot stuck tidak berjalan, makin khawatir dengan jadwal kereta yang berangkat dari stasiun Bandung jam 15.30. setidaknya ada jeda skitar 10  menit untuk sampai di Stasiun Kiara Condong. Tapi karena harus jalan kaki, dari jalan raya ke pintu masuk stasiun, sementara jalannya angkot tidak bisa aku harapkan lagi, aku meminta pada salah seorang penumpang angkot yang duduk di samping pintu, untuk menghentikan sebuah motor, dan kujadikan ojek cabutan. (duh, Gusti nu Agung, hapunten…)

Kereta datang ^^ sudah bisa menghela napas

Kereta datang ^^ sudah bisa menghela napas

22 Desember 2012

tiba di Stasiun Malang sekitar pukul 08.19. dalam kondisi sudah sarapan Pecel Madiun 2 bungkus, sudah puas tidur, dan belum mandi :D. mendapat kabar dari teman bahwa bus mereka masih di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur, aku jadi agak berleha-leha di stasiun. Walaupun ada keinginan untuk mendahului ke Bromo dulu sambil nunggu mereka, tapi lihat sikon dulu deh nanti, begitu pikirku dulu. Begitu turun dari kereta, selalu dan selalu setiap aku ke kota Malang, langsung menuju ke toilet, sekalian bebersih, repacking, dan dhuha serta istirahat bentar. Iseng sapa-sapa orang, ternyata banyak rombongan yang mau ke Bromo. dan ketika hendak meninggalkan stasiun, ada yang nyapa aku, dan ketika tahu aku mau ke semeru juga, mereka ngajak barengan menunggu. kebetulan rombongan mereka juga sedang dalam perjalanan ke Malang juga. tapi bedanya denganku, rombongan mereka sampai malang dengan kereta Majapahit.  Pukul 10 juga sudah sampai, lah rombonganku masih gaib kapan nyampenya.,,, Sambil nunggu sambil sarapan (lagi) bareng dengan membungkus di warung dalam stasiun. sebenarnya sih, tadi ngebungkus buat makan siang aja, tapi lihat temen makan, aku kok jadi pengen makan juga.. 👿  #hammer

jam 10 an rombongan teman datang, dan ngobrol-ngobrol bentar, aku diajak bareng ke Tumpang (Alhamdulillah ada barengan 😎 ). kami menyewa angkot, jumlah total rombongan 9 orang. (dan yang pada akhirnya aku lupa iuran, karena saat mau setor duit dibilang nanti-nanti aja, sampai kami berpisah di Tumpang )

Gak jadi ikut, tapi ikut nggaya dulu depan jeep :mrgreen:

Gak jadi ikut, tapi ikut nggaya dulu depan jeep :mrgreen:

Karena, rombonganku tak kunjung datang, akhirnya aku membiarkan mereka untuk pergi ke Ranupani terlebih dahulu. hal ini berlangsung sampai beberapa rombongan. Sampai bapak makelar jeepnya sepertinya iba denganku, hujan turun. Bapaknya beli roti goreng hangat dan diberikannya ke aku. tempat duduk yang kebasahan, dicarikan lagi tempat berteduh yang bebas basah.. so sweet lah.. Kayaknya kasihan banget lihat aku yang sudah berjam-jam menunggu kawan, dan ditinggal oleh beberapa rombongan lain.. (edisilebay) 🙄

hehehe.. gak segitu ya ah, toh dari sini, aku jadi kenalan dengan banyak orang, walaupun hanya ingat sesaat, sudah lupa nama, jadi saat ketemu di rakum/kalimati/puncak hanya bisa ber-HAI aja 😀

sekitar pukul 3.30an akhirnya rombonganku yang ternyata fix bertambah 2 orang datang juga. Langsung melengkapi logistik yg menurut temanku masih kurang,(padahal sambil nunggu aku sudah belanja-belanja, masih kurang aja). mereka datang sesaat setelah ada beberapa rombongan datang. dan berangkatlah menuju ke Ranupani, by jeep..yang akhirnya karena masalah administrasi, jadilah rombongan se jeep ini, jadi kawan perjalanan selama di Semeru.. ini salah satu yang membuatku senang, dapat teman baru ^^

Saat meninggalkan Tumpang, sedang hujan, jadilah kami naik jeep dengan bertutupkan terpal, tapi dasar aku yang suka ngintip-ngintip, terpalnya pun kubuka sedikit biar bisa lihat pemandangan luar. Semoga saat itu, teman-teman yang lain tidak terganggu. tapi tak berapa lama, hujan reda kawan.

suasana jalan di awal menuju ranupani :)

suasana jalan di awal menuju ranupani 🙂

dan lihatlah, dalam perjalanan menuju Ranupani, tak henti-hentinya mulut ini bertasbih dalam senyuman… Indah.. sungguh indah, hijau, putih. bukit-bukit itu, dikemas dengan kabut dan awan, jejeran pegunungan bromo sebelah kiri, bukit-bukit sebelah kanan… hanya mata ini yang sanggup mengabadikan secara sempurna. ditambah dengan suasana sendu sehabis hujan di sore itu, awan sudah mulai menggiring matahari untuk terbenam. Tuhan, negeri ini sungguh sangat indah.

scene sepanjang perjalanan di sore itu

scene sepanjang perjalanan di sore itu

jalanan nanjak dan langit sore itu :roll:

jalanan nanjak dan langit sore itu 🙄

Adzan magrib berkumandang, saat kami tiba di Ranupani. langsung lanjut repacking, registrasi, sholat, makan. dan akhirnya memutuskan tracking ke Ranu Kumbolo malam itu juga. sekitar pukul 20.18 kami mulai tracking. (dan sampai detik ini, aku hanya manggil mas, kang, aa’ untuk teman-teman baru yang menjadi teman seperjalanan.. :mrgreen: )

Perjalanan ini dimulai kawan, aku masih berharap kau ikut berjalan bersamaku. Perjalanan malam untuk tracking ke sekian kalinya yang aku lakukan. Harusnya perjalanan malam lebih cepat dari perjalanan siang, fokus dengan jalan, dibandingkan siang akan lebih lama karena tergoda dengan pemandangan yang indah,  udara dingin  akan kalah oleh panasnya tubuh kita. Keseraman malam akan kalah oleh kebersamaan kita. rulenya sederhana,tetap berjalan, jangan paksakan diri, dan say break jika ingin istirahat. (ini salah satu bagian yang kusuka 😀 ), tapi setiap kali break, setiap itu juga aku ketiduran.. ini gak bagus saudara-saudara.. metabolisme tubuh jadi naik turun ekstrem.. (kayaknya penyakit ngantukku belum sembuh juga apalagi di jam-jam tidur kyk gini)

perjalanan yang seharusnya 4 jam, kami pun sampai di Ranu Kumbolo sekita pukul 3 pagi. banyak istirahatnya kali ya :D.

antara Ranu Pani dan Ranu Kumbolo, terdapat 4 pos. pos satu jalur sedikit menanjak, pos 1- pos 2 lumayan datar, pos2-pos3 lumayan jauh, kalo aku gak salah ingat, di sini ada jembatan kayu, kalo pas jalan siang, bisa lah konser di jembatan ini :D.  setelah pos 3 ada jalur yang nanjak banget, dan shelter di pos 3 ambruk (entah sengaja atau tidak diambrukkan, di sini ada mitos yang beredar). Antara pos 3 dan pos 4, kita sudah berada di bukit yang menghadap ke Ranu Kumbolo. kelip-kelip senter dan lampu tenda sudah terlihat. dan coba matikan senter kita, maka akan terlihat remang-remang air Ranu Kumbolo. Dengan sedikit bantuan penerangan  bulan menuju purnama, danau itu terlihat. Aku berharap kau ada bersama ku untuk menikmati momen ini kawan. Rasa lelah sedikit terobati dengan pemandangan sendu temaram ini. dan sedikit mendongakkan kepala, langit begitu indah. mungkin ini yang disebut oleh orang-orang dengan gugusan bintang di atas Ranu Kumbolo..

indah, indah sekali kawan. tak henti mulut ini bertasbih. nikmat yang tidak akan aku dapat dengan hanya meringkuk di dalam kamar.(pas nulis ini, aku jadi rindu banget dengan suasana itu:( )

23 Desember 2012

Sampailah di Ranu Kumbolo, segera mendirikan tenda, jika yang lain segera menyalakan kompor dan membuat yang hangat-hangat, aku lebih memilih untuk masuk ke sleeping bag begitu tenda selesai berdiri.. rasa ngantuk mengalahkan rasa lapar dan dingin..

jam 5 terbangun.. suhu menunjukkan 10 derajat. Sayup-sayup terdengar suara di luar sana. aku intip keluar. berkabut. gak kuat dingin, akhirnya aku tayamum dan sholat shubuh di tenda. ingin menikmati sunrise, tapi berkabut sekali dan dingin sekali… tetangga tenda juga belum terdengar tanda-tanda kehidupan, akhirnya aku menunggu dulu dalam tenda saja.

pagi berkabut

pagi berkabut

bukan tanjakan cinta :P

bukan tanjakan cinta 😛

Sekitar pukul 6, kehidupan sudah mulai ramai. Saatnya masak-masak, sarapan, foto-foto, packing-packing, dan lain-lain

around Rakum ;)

around Rakum 😉

Sekitar pukul 9-10an, kami berangkat menuju Kalimati. Dan sedikit menelusur rakum, sampai pada titik pusat camp rakum, ternyata sisi lain di rakum lebih rame dari tempat camp kami tadi.

rehat dulu :p

rehat dulu 😛

Dan disitulah spot foto-foto rakum yang utama, ada prasasti juga di sana, dan aku belum melihatnya, kelewat terus, berjanji akan melihat waktu pulang saja (dan terlewat juga waktu perjalanan pulang 🙄 ), dan tentunya ada tanjakan cinta di depan, langsung kuhela napas begitu melihat tanjakan itu. Tidak perlu lah aku cerita tentang tanjakan fenomenal itu. Teman-teman cukup asyik dengan tanjakan itu, dan tentunya aku yang iseng pun mencoba main-main di tanjakan itu, berhenti (karena emang ngos-ngosan), dan menengok ke belakang, dan lihatlah cantiknya rakum dilihat dari sini. Kawan, andai kau bisa merasakan apa yang kurasakan, ditengah napas ngos-ngosan, disuguhi indahnya rakum.. sampai puncaknya rakum pun, break untuk berfoto ria, dan mereview siapa saja yang berhasil melakukan misinya di tanjakan itu.. 😛 (pada terbukti sudah ada hasil gak?)

rugi kalo gak nengok ke belakang :P

rugi kalo gak nengok ke belakang 😛

rakum dari tanjakan cinta, makanya sering-sering negok ke belakang ;p

rakum dari tanjakan cinta, makanya sering-sering negok ke belakang ;p

Tanjakan Cinta

Tanjakan Cinta

Setelah rakum, jalan sebentar dan lagi-lagi mulut ini tak bisa berhenti bertasbih, ada Oro-Oro Ombo di depan, dan turunan yang sama tajamnya dengan tanjakan cinta. Walaupun lagi kering dan baru muncul tunas-tunasnya, pemandangan itu tetap indah. Berhenti sebentar untuk menikmati alam ini.

oro oro ombo di depan sana

oro oro ombo di depan sana

Dan kami berisitirahat di pos Cemoro Kandang. Makan-makan, foto-foto, cerita-cerita, dan sampai detik ini aku masih belum tau nama-nama teman perjalananku ini :mrgreen:

Bisa dihitung kan berapa kali dalam waktu singkat kami break berisitirahat 😛

Dalam perjalanan ke Cemoro Kandang sampai ke Jambangan, jalan yang kami tempuh naik turun, katanya sih habis tanjakan terus turun ke Kalimati, tapi nyatanya, berapa naik turun yang harus dilewati, sempat merasa putus asa, karena gak nyampe-nyampe. Tiap ada orang yang balik arah , selalu bertanya “kalimati berapa lama lagi yah?”, ya jawabannya ada yang bikin makin lemes, ada yg bikin nambah semangat. Kayaknya latihan fisik sangant kurang, apalagi seminggu terakhir kurang tidur. Sekarang hanya semangat yang bisa menyemangati :D..dari sebuah area terlihat oro-oro ombo dari dari jauh, ya, cukup mengobati. Dan teman yang mungkin berfungsi sebagai tim sweeping pun aku minta untuk duluan saja, asal jalurnya sudah jelas, gak masalah aku jalan sendiri. Tapi selama perjalanan ini, perkenalan pun satu demi satu dimulai, akhirnya tau nama juga.. hehehe, walaupun belum semua.. memang jangan semua sekaligus nanti lima menit kemudian bisa lupa lagi 😀

Begitu melewati jalan nanjak terakhir, mulai memasuki hutan yang banyak padang rumput dan mulai ada edelweisnya. Walaupun tak berbunga, tapi tetap nampak cantik, masuk juga area pepohonan rapat, yang jika jalan sendirian, aku mulai merasa megidik, apa ya istilahnya, semacam bulu kuduk berdiri, tapi rasa itu aku halau dengan foto sana-sini, dengan kemampuan kamera yang sudah pas-pasan. Mencoba membidik scene yang tak bosan ku menatapnya. Ini juga yang bikin perjalanan makin lama.

sampai di pos yang bertuliskan jambangan, aku istirahat sebentar, dan ketemu dengan pendaki lain. Tanya-tanya, “ mbak sendirian saja?”|gak, ama temen| “anak pala?”| bukan| “gara-gara 5cm ya?”| >.< , memang yang boleh ke gunung hanya anak  pala atau anak korban film ya? Duhhh bener-bener jadi ajang latihan sabar..  dijawab dengan cengiran aja 😀

dan tak lama kemudian, tampaklah kerumunan tenda, huft… mungkin ini surga tujuan, akhirnya sampai. Tapi ternyata, gak sampai di situ, rombongan yang bertiga, harus mencari rombongan barengan kita…   keliling-keliling pasrah, akhirnya ketemu juga…

Kalimati, tempat kita ngecamp sebelum muncak..

#bersambung di sini

(sumber foto: dokumen pribadi dan dokumen teman-teman seperjalanan 🙂 )

Catper Semeru (bagian 1 versi singkat)

Daripada nunggu kelamaan kelar nyelesain tulisan catper yang agak lebay, ditulis dulu deh versi singkatnya…

21 Desember 2012
Berangkat menuju Malang dari Bandung, via kereta Malabar, waktu itu dapat tiket dengan harga 165ribu, kereta kelas-3. menurut obrolan engan penumpang sebelah, dia pesan dalam waktu yang dekat harga ternyata lebihmahal, jadi kayaknya pesan jauh2 hari bisa mendapatkan harga lebih murah.

Aku naik dari stasiun Kiara Condong, kereta ini brangkat dari Stasiun Hall pukul 15.30, jeda waktu sekitar 10-15 menit untuk sampai di Stasiun Kiara Condong. dari Bojongsoang bisa ikut angkot dayeuhkolot-kordon, trus jalan ke pasar kordon sambung naik ciwastra-cicadas. berhubung kemaren kordon banjir, jadinya  disambung dengan buah batu-sederhana (warna biru) turun di perempatan buah batu, terus nyambung pake angkot cibaduyut-cicaheum (warna merah). Turun di deket rel kereta api, jalan aja menuju pintu stasiunnya..  Kereta lewat di Jalur 2, jalur itu berada di selatan, jadi kalo masuk lewat pintu selatan lebih dekat.

kalo gak naik angkot, bisa bawa motor, kalo tarif di stasiun bandung yang bagian selatan sekitar 7500/hari, kadang bisa ditawar asal pintar ngrayu bapaknya 🙄 , kalo di pintu utara lebih mahal, kalo gak salah 9000/hari.

Kereta Malabar itu, satu kereta dengan 3 kelas, cuma beda gerbong, jadi keikut cepet ama kelas 1. gak terlalu ngalah kayak kereta-kerata yang murni kereta kelas 3, tapi ya itu agak sedikit mahal.

22 Desember 2012

Baru sampe stasiun Malang jam 8.10an, jadwalnya sih jam 7.05, tapi kereta telat sejam selaam ini masih wajar aja. Bisa beli makan pecel madiun saat di stasiun Madiun, nyampe masiun sekitar sebelum subuh. satu bungkus 3000, tapi kemaren waktu beli gak seperti biasanya, kemaren hanya pake lauk sundreng, biasanya pake lauk tempe atau tahu. tapi tetep enak sih dengan harga segitu, aku beli dua, karena takut beebrapa jam lagi masih lapar, jadi satu dimakan saat itujuga,d an satunya dimakan sebagai sarapan. eh, iya kalo beli pecel madiun, jangan sungkan untukmilih yang masih hangat, lebih enak. 😉

Di stasiun Malang terdapat pilihan toilet, ada yang gratis ada yng berbayar, kalo yang gratis hanya bisa untuk fungsional dasar aja, kalo yang berbayar enak untuk mandi, dan di sebelahnya lagi juga ada tempat untuk charging, sekitar 2000 sekali charging, mandi juga 2000 sekali mandi. tempatnya dekat mushola. sekalian bisa istirahat di situ. kalo mau beli makan juga ada di stasiun, walaupun menurutku agak mahal.

Kalo mau ke semeru, tujuan pertama dari Stasiun biasanya ke Pasar tumpang, bisa naek angkot dulu ke terminal arjosari (naik angkotnya ke arah seberang stasiun ongkos 3000), lalu cari angkot lagi yang menuju ke tumpang (ongkos gak tahu, sebaiknya cari tahunya tanya ke sesama penumpang aja). tapi kalo banyakan bisa langsung carter angkot atau mobil depan stasiun. tarif normal sih 100ribu/angkot atau setidaknya paling mahal 10ribu lah per orang.

pusat pemberhentian di pasar tumpang sepertinya di Alfamart. sekalian kalo mau stok logistik, sedangkan kalo mau beli-beli sayur mayur ya di pasarnya aja langsung, di seberangnya alfamart itu sudah pasar. bagian sayur mayur agak ke selatan, kalo gak salah di situ juga ada puskesmas, barangkali ada yang belum punya surat sehat bisa bikin di situ, dan jangan lupa juga untuk fotokopi KTP dan surat sehatnya, masing-masing 2 copy, deket alfamart itu ada tukang fotocopyannya juga.

di Alfaamrt juga bisa numpang toilet kalau mau. tapi deket situ juga ada masjid, sekalian nunggu jeep, sekalian sholat dulu.. masjidnya masuk gang sekitar 100 meter. masjid nya bagus, disana disedian mukena, sarung, payung.

biasanya disitu ada makelar jeep nya, dan jeep akan berangkat minimal 15 orang, tapi kalo mau cepet ya bisa aja sedibaginya per orang. yang jelas tarif peer jeep 450ribu, kalo yang bak terbuka maksimal 18 orang, kalo bak tertutup sekitar 7 orang saja.

alternatif lain kata abang makelarnya ada truk sayur, tapi itu jam 4 pagi adanya. atau truk gedhe tapi kalo yang ini butuh orang lebih banyak, walaupun nanti jatuhnya lebih murah sih. tapi dari pengalaman kemaren lebih enak naek jeep dari pada truk.

dan mumpung masih di Tumpang, jika administrasi belum lengkap, di situlah kesempatan untuk melengkapi. termasuk materai 6000 per tim nya

selanjutnya perjalanan by jeep, mata akan dimanjakan oleh pemandangan yang indah banget kawan, nikmatlah.

kemudian sampai di pos ranupani, kalo mau ada barang yang ditinggal gak jadi dibawa, bisa dititipkan di warung bu erna, depan pos, disituada menu-menu rawon, kari ayam, teh manis hangat dll.

selanjutnya adalah track pendakian dengan pemandangan yang memanjakan mata, sala trackingnya di siang hari 😛

mungkin itu dulu kali ya.. untuk tempat camp bisa di Ranu kumbolo, Kalimati, dan Arcopodo. tapi Simaksi hanya sampai Kalimati aja ya kawan. setelah itu, resiko ditanggung sendiri 🙄

kalo kemalaman sampai ranupani, bisa nge-camp di situ, ato ada tempat singgah yang khusus untuk pendaki, tapi jauh dari toilet. di situ juga ada mushola, deket dengan toilet juga. tapi selama aku di situ, airnya cukup terbatas.

untuk versi lebay dari catper ini, ditunggu saja beberapa jam kemudian. :mrgreen:

(silakan lanjut ke sini 😀 –> http://wp.me/pciYL-dV)

Pendakian Safari Gunung Burangrang

ini merupakan catatan perjalanan yang sudah basi, dengan alasan sok sibuk (atau malas lebih tepatnya), barulah terselesaikan sekarang, yg sbeelum ini hanya berupa draft saja. Perjalanan ini dilakukan pada tanggal 23-24 Maret 2012. lama kan..

Kenapa ada embel-embel “safari” setelah kata pendakian?

inilah obrolan yang membahas tentang itu:

x: Tau gak, kalo yang namanya pendakian itu, mengejar target, kita harus sampai puncak jam berapa, turun jam berapa, dan harus patuh dengan jadwal.

y: bukannya memang harus seperti itum karena itu kan kita membuat itinerary nya?

x: iya, tapi itinerary yang kita buat masih fleksible, toh kita sekarang kita masih di sini.

dan kita hikingnya nyantai saja  ya, sambil menikmati pemandangan kanan-kiri, foto-foto, sambil cerita-cerita, dan inilah namanya Safari Hiking.

Wew, jadi selama ini, aku selalu melakukan safari hiking dunks.. 😀

sebagai seorang pemula, pasti excited banget, bahasa halusnya norak lah :mrgreen:

Longweekend kemaren, akhirnya teman-temanku memenuhi ajakanku untuk melihat city light dari puncak burangrang. Keinginan ini sudah muncul saat pendakian ke Manglayang (yang puncaknya tertutup), bahwa puncak Burangrang terbuka, sehingga dapat lah Sunset, Sunrise, citylight, dan Alhamdulillah kemaren dapat bonus pelangi saat sore hari.

Kami berangkat dari Legok Haji, dari kampus carter angkot sampai di perkampungan Legok Haji. dan inilah tempat terakhir sumber air ada.

Kadang merasa sangat berat jika gunung yang kita kunjungi merupakan gunung yang jarang sumber airnya, atau sumber air jauh dari puncak, beban yang dibawa jauh lebih berat, karena harus membawa air ekstra. Karena ini kadang masih banyak mikir jika diajak ke ciremai atau ke Cikurai :D. Gunung Burangrang merupakan salah satu gunung (dan spertinya lebih banyak gunung yang seperti ini) yang tidak ada sumber air di puncaknya.

Jika Lewat Legok Haji, pastikan sebelumnya bahwa tidak ada Kopasus yang sedang latihan, karena dari Legok Haji saya tidak menemukas pos untuk melaporkan pendakian. Kalau dari info teman-teman, seperti jalur resminya adalah jalur komando, yang pos nya dekat dengan  Situ Lembang, Jika ada latihan, kita tidak akan dapat ijin untuk melakukan pendakian, biar kita juga gak jadi korban peluru nyasar.

Tapi beruntung, mungkin karena longweekend, jadi sepertinya kopasusnya tidak latihan dulu. 😀 (tapi ini sebenarnya contoh yang buruk, jangan ditiru)

dan aku kembali bersyukur karena kita naik dan sampai puncak lebih awal, kalau tidak, kita gak akan kebagian area camping di puncak. waktu kita turun saja, banyak banget rombongan yang naik, dan beberapa dari mereka memutuskan untuk turun kembali karena tidak kebagian tempat camping.

dan perjalanan turun pun, kami agak melipir ke kanan, lagi-lagi bukan jalur resmi,  berakhirnya di masjid Al-Karim.

Setelah rehat dan sholat, kami melanjutkan perjalanan untuk mencari angkot pulang, dan selebihnya kami maksi dulu, bakso dan es campur.. seger… 😀

pemandangan dari masjid Al Karim, bebersih, sholat, dan rehat sebentar di sini sebelum jalan menuju angkot

turun.. tak jauh dari puncak

menjelang sunset, kabutnya tebal, tapi menjadikan lebih sendu suasananya 😀

 

view dari puncak, arah barat kalo gak salah ingat